Cerpen Caroline Wong (Media Indonesia, 16 September 2018)

Mematikan Lagarise ilustrasi Bayu WIcaksono - Media Indonesia.jpg
Mematikan Lagarise ilustrasi Bayu WIcaksono/Media Indonesia

DI dalam benteng kokoh berpintu besi ini, aku mendapati diriku sedang bersantai. Aku duduk di depan pintu rumah utama. Menghadap ke tembok batu cadas setinggi kurang lebih dua setengah meter. Puluhan atau mungkin hampir ratusan tanaman anggrek memenuhi dinding tembok. Aku tidak bisa melihat apa indahnya, kecuali bahwa bunga-bunga itu serupa perempuan-perempuan tua. Kaku dan abadi.

Aku menyesap seteguk teh hangat dari beras merah. Hidungku menghirup wangi pandan dan lidahku mengecap rasa sedikit gosong dari serbuk beras merah—yang malah menambah rasa. Ini baru buatku, tapi enak. Aku lalu menjadi semakin bersemangat dan mulai mengatur rencana.

Gelas kedua bisa menunggu, sebelum embun-embun pagi ini berlalu di bawah kolong matahari…

***

“Lagarise tewas diracun. Benar-benar mengecewakan, tapi sangat menghibur penonton.”

“Tapi, di berita belum ada yang menyinggung tentang hasil otopsi dan lab.”

“Oh? Jadi, dengan mata dan akal budimu pun kamu tidak bisa mengambil kesimpulan?”

“Tapi, bukannya sebelum…”

“Ah! Pokoknya begitu! Hasil otopsi keluar sekarang atau lusa atau seminggu lagi, bahkan setahun lagi, sudah jelas Lagarise diracun.”

Baca juga: Lelaki yang Kukira Kurang Berwarna – Cerpen Caroline Wong (Fajar, 06 Mei 2018)

“Atau bunuh diri dengan minum racun?”

“Bukan! Pemuda congkak itu bukan jenis yang mampu membunuh dirinya sendiri. Dia jenis manusia garang yang punya banyak musuh.”

“Bagaimana, eh, kok bisa tahu, eh dia banyak musuh?”

Wim van Tilburg menoleh ke arah Jonkers dengan tatapan mata kejam, “Aku salah satu yang menginginkan kematiannya.”

Jonkers langsung terdiam, memang Wim pernah bertukar serapah dengan Lagarise, ketika Wim datang berkunjung ke rumah Jonkers—tepatnya, selalu datang ke rumah ini. Ketika itu, Lagarise memarkir mobilnya seenaknya dan menghalangi jalan untuk pejalan kaki dan sepeda. Tapi, tentu saja lelaki tua keras kepala itu hanya ‘ingin’ tapi tidak mungkin.

Advertisements