Cerpen Eko Setyawan (Radar Banyuwangi, 16 September 2018)

Marto Timpal dan Kisah Pohon Ipik ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Marto Timpal dan Kisah Pohon Ipik ilustrasi Radar Banyuwangi 

Kau boleh percaya atau tidak pada kisah ini. Kurasa itu hakmu untuk mempercayai segala hal di dunia ini. Termasuk perihal cerita, kisah, atau dongeng yang akan kutuliskan. Semoga saja kau berkenan sekadar melihatnya atau lebih jauh lagi kau mau membaca semua yang telah kutulis. Semoga saja. Semoga kau tak gila setelah menyelesaikan membaca cerita ini hingga kata terakhir.

Kau adalah harapan terakhir pada tulisan-tulisan yang kususun dan berharap kau baca lalu kau selesaikan sebelum malam hari tiba. Sebab jika hari sudah malam, tulisan-tulisan ini akan memudar dan bergentanyangan di tengah kota. Menjadi arwah yang akan mengetuk pintumu sebelum tidur. Kadang muncul secara mengerikan di atas lemari, atau di luar jendela kamar, juga kadang di kolong tempat tidurmu.

Tak perlu ada kengerian. Semua akan berlalu saja. Secepat kedatangan dan kepergian mereka. Tentang ketakutan yang kaurasakan, kurasa itu hanya perasaanmu. Penakut. Semua orang memiliki rasa takut dalam hati kecilnya, tak terkecuali kau. Tapi itu hanyalah ketakutan yang diberikan dan ditularkan oleh orang-orang tua di sekitarmu. Diceritakan dengan gaya bualan yang khas. Menciptakan ketakutan sehingga kau tak berani melakukan hal yang mereka yakini itu adalah tindakan bodoh. Melawan adat. Atau terkadang hanya mitos.

***

Baca juga: Bulan Pemakan Ternak – Cerpen Eko Setyawan (Minggu Pagi, 16 Agustus 2018)

Jembatan itu telah menjadi saksi tentang kematian ribuan orang. Mulai dari penjajah Belanda yang dibunuh dengan bambu-bambu yang telah diruncingkan dan merobek kulit mereka, pasukan Jepang yang dilumpuhkan dengan granat mereka sendiri yang dicuri oleh pejuang sebelum merdeka dari barak-barak, pembantaian jenderal-jenderal dan dibuang ke bawah jembatan, juga pemusnahan masal orang-orang yang mengibarkan bendera bergambar peralatan kerja mereka, jika boleh kusebutkan, yakni godam dan sabit, agar terdengar lebih halus dan orang-orang yang berpikiran sensitif itu tidak mendidih darahnya. Dan tentu yang tak mungkin kau lupakan adalah berandal-berandal berambut gondrong yang memiliki lubang di dadanya bekas peluru bersarang.

Saban hari, selalu saja ada kecelakaan maut dan merenggut nyawa orang-orang, entah orang baik atau penjahat sekali pun. Mobil mereka terseret hingga masuk ke dalam jurang, truk-truk pengangkut air minum kemasan yang terperosok dan meledak di dasarnya, serta teriakan-teriakan yang memekakkan telinga setiap malam hari.

Advertisements