Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Republika, 16 September 2018)

Lelaki Pengurus Orang Mati ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Lelaki Pengurus Orang Mati ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Tidak bisa dibohongi, sesungguhnya Kris tidak rela bila cintanya harus pupus. Tadi pagi Fatimah menemuinya dengan wajah sedih, menyampaikan perihal sebab ia bersedih. Sama seperti Kris, Fatimah juga tak rela. Ia begitu mencintai Kris. Orang tua Fatimah tak menyetujui bila hubungan itu harus berlanjut ke jenjang pernikahan, dengan alasan hanya gara-gara Kris yang bekerja sebagai pengurus orang mati.

Ya, Kris bekerja sebagai pengurus orang mati. Ia bergabung di sebuah komunitas. Kegiatan utama komunitas itu tentu saja memandikan jenazah hingga menguburkannya. Tetapi, apa yang dilakukan sedikit tidak umum. Maksudnya, kegiatan komunitas itu hanyalah memandikan orang yang meninggal tertentu saja. Contoh, orang gila yang mati di pinggir jalan, mayat yang ditemukan tanpa identitas, orang yang wafat di panti jompo, orang-orang yang tak diketahui sanak-familinya dan sebagainya.

Gaji pengurus orang mati tentu saja tak sebanyak pegawai negeri. Komunitas Kris di bawah bayang-bayang pemerintah, tetapi pihak pemerintah sendiri hanya sanggup menggaji mereka dengan gaji yang minim, bahkan, ada yang mengaku gaji itu terlalu minim untuk seorang pengurus jenazah, apalagi bila mengingat saat bertugas, terkadang mengurusi mayat yang kondisinya sangat menjijikkan. Namun, jika sedang beruntung, mereka bisa mendapat uang tambahan dari orang yang iba kepada mereka, meski hanya sedikit jumlahnya.

Baca juga: Empat Cerita – Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Banjarmasin Post, 08 Juli 2018)

Fatimah tahu, pekerjaan Kris tidak hina, bahkan bila yang memandang adalah orang beriman, pekerjaan itu sangat mulia. Tetapi, keluarganya tidak bisa menerima, bagi mereka yang terpenting bukan soal mulia tidaknya sebuah pekerjaan, namun seberapa menghasilkan (uang) sebuah pekerjaan sebab kehidupan rumah tangga bermuara pada tanggung jawab, apalagi saat sudah hadir buah hati, tentu tanggung jawab akan semakin berat, kebutuhan semakin meningkat.

Uang sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Keluarga Fatimah adalah keluarga yang kaya. Namun, mereka tidak mendidik Fatimah secara manja. Bisa saja setelah menikah Fatimah masih bergantung pada kekayaan orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi, apakah demikian? Dan, orang tua Fatimah tak pernah mengharapkan itu.

Advertisements