Cerpen Achmad Agung Prayoga (Suara Merdeka, 16 September 2018)

Burhan ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Burhan ilustrasi Suara Merdeka

“Burhan?”

Suara itu muncul dari mulut seseorang. Sepertinya perempuan. Tiba-tiba ia menghentikan langkah, setelah melangkah dengan kehati-hatian pencuri agar bisa mengelilingi rumah tanpa menimbulkan suara. Hampir meluncur teriakan dari kerongkongannya.

Suara itu dari lantai dua. Tepat ketika ia akan sampai di anak tangga pertama menuju lantai dua, langkahnya tertahan. Mungkinkah ada orang lain? Ia merasa ngeri; sendirian di kegelapan rumah, lalu menyadari ada orang lain. Dari ujung bawah tangga itu ia melihat cahaya lampu menyala dari lorong di lantai dua.

“Burhan? Itukah kau?”

Matanya tak berkedip sejak suara pertama muncul. Bulu kuduknya berdiri. Angin berdesir menyentuh tengkuk dan telinganya. Sayup-sayup suara langkah muncul dari lorong itu. Tidak cepat, terdengar hati-hati. Ia gelagapan.

Ia mundur dengan hati-hati. Tepat di belakangnya adalah jalan menuju ruang makan sekaligus dapur. Ia ke sana. Ruangan itu memiliki meja panjang yang dikelilingi beberapa kursi. Ada lemari dapur dan kulkas.

Dengan senter dia mengenali dengan baik benda-benda itu. Ruang itu tak seberapa besar. Meja hanya muat lima orang. Jika dipaksakan bisa jadi enam. Sepanjang sisi meja terkikir rapi, peliturnya masih bagus. Kursi-kursi kayu yang tak ia kenali jenisnya memiliki bantalan yang membuat nyaman orang yang menduduki. Lampu gantung cukup rendah bergeming di atas meja. Terlihat seperti empat tulip putih yang akan mekar dan tertangkup terbalik. Perpaduan senter dan mata yang cemerlang mengenali semua itu dengan mudah. Telinganya tak kalah cemerlang, terutama menghadapi ketakutan seperti saat ini.

Suara itu muncul lagi. Terdengar lebih dekat dan tajam. “Burhan? Kaukah itu? Tak apa, kemarilah.”

Mungkin sosok itu sudah sampai di anak tangga. Mungkin sedang menuju ke ruang makan. Ia tak mungkin menjawab, “Di sini gelap. Aku tak bisa mendengarmu.” Atau semacamnya. Ia diam saja. Namun dalam pikirannya berkelebat kemungkinan agar bisa keluar dari situasi itu.

Tak mungkin bagi dia unjuk diri di hadapan sosok itu. Ia tak yakin itu perempuan. Kalaupun perempuan, ia tak akan unjuk diri. Ia masih teguh pada keyakinan: hanya ia seorang di rumah ini.

Advertisements