Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 16 September 2018)

Argo Senja ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Argo Senja ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

SEKALI dalam setahun, stasiun Pasar Senen berubah namanya menjadi stasiun Pasar Senja. Dan hanya ada satu kereta yang berangkat hari itu: kereta api Argo Senja.

Tak seperti hari-hari biasa, di mana stasiun Pasar Senen riuh oleh penumpang yang datang dan pergi dari pagi sampai tengah malam, di hari ketika ia berubah menjadi stasiun Pasar Senja, keadaannya cenderung lebih lengang. Nyaris tanpa aktivitas. Para pedagang menutup lapaknya, minimarket tertulis “Libur Selamanya”, sementara di balik kaca loket, beberapa petugas tampak duduk dengan malas, terkantuk-kantuk, sebagiannya sibuk dengan ponsel masing-masing.

Tak ada antrean memanjang di luar, sebab semua penumpang telah berebut untuk membeli tiket secara online sejak satu tahun sebelumnya. Apalagi jumlah tiket Argo Senja sangat terbatas, hanya untuk 666 penumpang, sehingga tidak semua orang beruntung mendapatkannya, pemesanannya lebih sulit daripada pemesanan tiket untuk hari raya atau tahun baru.

Baca juga: Arsitektur Kesunyian – Cerpen Sungging Raga (Tribun Jabar, 29 Januari 2017)

“Aku dapat! Aku dapat tiket Argo Senja!” begitu biasanya seseorang berkata setelah ia berhasil memesan kursi.

“Apa yang istimewa? Setiap hari selalu ada kereta Senja di stasiun Pasar Senen,” jawab temannya.

“Berbeda, Bung. Kereta ini berangkat sekali dalam setahun…”

Memang benar, sehari-harinya sudah ada kereta bernama Senja Utama Solo, Senja Utama Jogja, tapi kedua kereta itu tidak benar-benar berangkat saat senja, melainkan ketika hari sudah malam. Jadi itu cuma nama imitasi, senja yang tidak benar-benar senja. Adapun Argo Senja, berangkat tepat ketika langit berwarna merah keemasan. Dan di hari kereta Argo Senja dijadwalkan berangkat, langit selalu cerah, tidak pernah mendung apalagi hujan, ia seakan menyingkirkan segala ramalan cuaca. Dan pada hari itu juga, sesaat sebelum kereta berangkat, selalu datang seorang lelaki yang rambut panjangnya sebagian telah memutih, berjalan tergopoh-gopoh mendatangi loket, “Maaf, tunggu sebentar. Apa yang akan berangkat itu kereta senja?”

“Itu Argo Senja, Pak.”

Baca juga: Kedai Senja – Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 24 September 2017)

“Apa itu sama dengan kereta senja yang berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta, kereta yang tidak akan pernah kembali, seperti di cerpen saya? Kalau ya, akan saya tuntut penulis cerita ini sebagai tindakan plagiat.”

“Oh berbeda, Pak. Di kereta Argo Senja, penumpangnya akan kembali. Tidak seperti di cerpen Bapak.”

“Hmm, begitu, ya?” kemudian lelaki berambut panjang itu pun berlalu. Tinggallah sesama petugas loket saling berbisik.

“Siapa sih, dia?”

“Oh, itu Seno Gumira.”

Advertisements