Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 16 September 2018)

Amnesti ilustrasi Indra Widiyanto - Kompas.jpg
Amnesti ilustrasi Indra Widiyanto/Kompas

Di zaman baheula, ada seorang bromocorah yang divonis hukuman mati. Ulahnya membunuh, menjarah, menyiksa, sangat biadab. Seluruh warga mengutuk dan berdoa supaya bajingan itu cepat mati. Dia dianggap iblis yang memberi isyarat hari kiamat sudah tiba.

Tak hanya terbatas menjarah orang kaya, bandit itu juga tak segan-segan merampok, memperkosa, membantai rakyat jelata yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan darah dingin, saraf baja, ia hirup nikmat kutukan biadab bagai pujian, sembari nyengir gila. Ia meyakini dapat kepercayaan untuk menyelamatkan dunia dan kehidupan dengan dana dari perdagangan narkoba.

“Manusia adalah serigala kata Thomas Hobbes. Untuk menggembalakannya perlu macan,” kata bajingan itu bangga. “Maka, aku jadi Raja Rimba. Hukum sudah tak bertaring lagi. Hukum hanya sandiwara untuk menipu sejarah. Itu bukan infrastruktur peradaban, bukan pasukan pengawal-pengaman kehidupan, bukan Robin Hood dari rimba Sherwood. Hukum hanya ular kobra, black mamba, bagi rakyat kecil. Hukum hanya pilar kekuasaan untuk mengamankan keangkaraan kesewenang-wenangan kekaisaran yang hanya bercita-cita tunggal: membekukan kita sebagai abdi Kaisar! Berhala yang mencincang kebebasan-kemerdekaan itu harus dicincang rata dengan tanah. Di atasnya kita bangun kerajaan masa depan yang tanpa batas. Itulah kemerdekaan sejati yang asli. Dan, aku yang akan menjamin tak seorang pun yang akan berani melanggar aturan ketertiban dan kedamaian. Karena baru sampai ada getaran niat saja di dadanya sudah langsung aku sikat musnah tandas zonder basa-basi permisi lagi yang isinya cuma bau tai!!”

Baca juga: Maling – Cerpen Putu Wijaya (Jawa Pos, 03 Juni 2018)

Semua orang mengurut dada. Takjub juga bingung pada komentarnya yang digeber obral seluruh medsos secara mencolok besar-besaran hampir sebulan penuh. Seakan-akan tak ada kabar lain yang lebih layak dimakan rakyat.

Masyarakat jadi terteror. Gelisah, resah, gerah.

“Kenapa pernyataannya tak sedikit pun menunjukkan kegentaran ketakutan menghampiri saat eksekusi, seperti umumnya kita manusia normal? Apakah dia binatang? Itu menakjubkan. Apakah sarafnya sudah putus? Atau di dasar jiwanya ada iblis membisikkan ia berada di jalan Tuhan, yang menjadikan dia gagah berani, bahkan bahagia meninggalkan timbunan dosanya dalam kehidupan. Tidak gentar berpisah dengan sanak saudara dan handai taulannya karena percaya ia sudah disediakan lapak di surga? Alasan seperti itukah yang menyebabkan orang jadi nekat jahat, bejat, tidak toleran, antikemanusiaan, dan radikal? Atau, atau mungkinkah, mungkinkah, mungkinkah sesungguhnya dialah sebenar-benarnya yang adil, betul dan benar?”

Advertisements