Cerpen Muhtadi Chasbien (Haluan, 15-16 September 2018)

Yang Retak di Malam Ketujuh ilustrasi Istimewa
Yang Retak di Malam Ketujuh ilustrasi Istimewa

Kabar duka itu datang tiba-tiba. Sungguh aku tak pernah mengira ayahmu akan secepat itu meninggalkan kita untuk selamanya. Aku ingat jam tujuh pagi tadi, ia masih duduk di teras rumah dan sempat mengajakku main domino. Sungguh aku menyesal tak mengiyakan ajakannya yang ternyata itu permintaan terakhir ayahmu.

Sekitar pukul sepuluh, keranda mayat yang di dalamnya membujur jasad ayahmu, dibawa oleh tetangga menuju liang lahat. Sebelum keranda itu keluar dari pekarangan rumah, Nenek menghentikannya. Kau menghampiri keranda itu dan berjalan bolak-balik di bawahnya sebanyak tiga kali sambil menangis. Kata Nenek, bagi perawan yang ditinggal mati ayahnya, melaksanakan hal itu adalah sebuah keharusan.

Keranda itu dibawa menjauh dan semakin jauh dari pekarangan rumah. Aku, sanak kerabatmu, dan para tetangga, berbaris di belakang keranda seperti semut yang berbaris di pohon mangga. Kau berada di antara Ibu dan Nenek, di barisan perempuan-perempuan cemeng; barisan yang tangisnya tak cepat usai.

***

“Saat Yuli masih dalam kandungan, aku bilang ke pamanmu, kalau anaknya lahir perempuan akan kujodohkan denganmu,” kata Bapak setelah tahlilan di malam pertama. Kami berada di ruang tamu. Bapak satu-satunya laki-laki yang berada di hadapanku. Nenek dan Ibu berjejer di samping kanannya. Mata mereka masih bengkak karena tangis tadi pagi. Sesekali kudengar sesegukan di antara mereka, entah dari hidung siapa.

“Perempuan yang sudah bertunangan dan ditinggal wafat ayahnya harus dinikahkan sebelum lepas malam ketujuh,” Nenek menimpali. Suaranya datar namun penuh tekanan.

Baca juga: Semaun dan Kalung Kafan di Lehernya – Cerpen Ana Nurhasanah (Haluan, 01-02 September 2018)

Aku jadi paham maksud pertemuan ini. Dengan modal pertunangan yang baru kuketahui, mereka berencana segera menggelar pernikahan, pernikahan kita, aku dan dirimu.

“Bagaimana?” tanya bapak. Aku tetap tak menjawab. Dadaku panas. Seperti ada bara saat mendengar cerita yang mestinya ia ceritakan jauh-jauh hari. Bara itu sangat mungkin melahapmu jika mereka tetap menyiramnya dengan minyak tanah atau benda-benda lain yang mudah terbakar. Kecuali jika aku berbaik hati, menyiramnya dengan air mata.

Aku ingat kejadian dua bulan lalu di Bukittinggi. Di tempat itu, disaksikan lima orang teman kuliah, aku berjongkok di depanmu, lalu memberimu sekuntum mawar merah yang masih segar. Kau tersenyum sesaat setelah kunyatakan cinta. Ranum bibirmu dan manis wajahmu saat tersenyum semakin membuatku tergila-gila. Itu kali ketiga aku menembakmu, Yuli. Dan tentu kau juga masih ingat, bukan?

Advertisements