Cerpen Galang Hutriadi (Suara Merdeka, 09 September 2018)

Sebuah Pesan dan Bemo yang Memikat ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka.jpg
Sebuah Pesan dan Bemo yang Memikat ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka 

Saat warna matahari berangsur jingga kegelapan, aku masih duduk di ruangan. Kupandangi beberapa gedung yang tampak sama tinggi dengan ruanganku. Juga tampak permukiman padat yang mengerubungi bagian bawah gedung-gedung itu. Hanya sedikit pepohonan yang tampak.

Daftar putar lagu di laptopku sedang mengalunkan tembang Adhitya Sofyan, “Blue Sky Collapse”. Lagu itu mengiringi rasa letihku, yang kuredam dengan menilik keindahan alam kota saat matahari sore berangsur tenggelam, hingga kuteringat sebuah tujuan. Tujuan yang belum kucapai.

Perlahan mataku terasa panas hingga satu per satu bulir air melewati pipiku. Dia telah melanjutkan hidup, di alam lain. Sebagian jiwaku terasa lepas dari raga, terbang bersama nyawanya.

Hanya dia satu-satunya orang yang menyayangiku, memedulikanku, juga menasihatiku dengan tulus, tanpa pernah berkata tulus. Hanya dia seorang yang membesarkanku sejak kecil hingga kini aku telah mengikuti upacara wisuda dua bulan sebelum dia tiada.

Namun kakak-adiknya terus menyemangatiku. Suatu waktu adiknya berujar kepadaku, “Dukacita boleh, tapi jangan berlarut ya. Hidup itu rangkaian cobaan yang bertingkat. Sekarang kamu lagi diberi cobaan untuk lebih siap menghadapi cobaan setingkat di atas ini. Kamu harus semangat! Kan baru jadi sarjana.” Lalu bibiku tersenyum menilikku.

Baca juga: Dajjal di Kampung Surga – Cerpen Mazka Hauzan (Suara Merdeka, 05 Agustus 2018)

Lain waktu kakaknya yang berujar, “Belajarlah melepas sesuatu, dari yang kecil hingga terbesar. Bude tahu, ibumu adalah anugerah terbesar dalam hidupmu. Tapi bagaimanapun ibumu milik Tuhan. Jangankan ibumu, diri kita pun bukan sepenuhnya milik kita. Legawa ya.” Lalu budeku mengelus-elus pundakku.

Saat itu, kugenggam lipatan kertas seraya menilik gemerlap lampu kota dari atas bukit. Tempat yang paling kusuka untuk bersuluk. Kendati masih terdengar suara orang bicara, hilir-mudik kendaraan, ataupun iringan lagu, tetap terasa hening bagi batinku.

Kubuka lipatan kertas pemberian Bude dengan mata masih menilik gemerlap malam. Perlahan kuarahkan mata ke kertas.

Advertisements