Cerpen Arie Fajar Rofian (Republika, 09 September 2018)

Sarung untuk Bapak ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Sarung untuk Bapak ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Pesawat yang Rusli tumpangi mengudara, melesat dengan kecepatan yang sama seperti degup jantungnya. Ini adalah kepulangan pertama Rusli setelah dua Lebaran berturut-turut dilewatinya di negeri orang. Bukan Rusli tidak rindu akan kampung halaman, hanya kewajibannya sebagai buruh pabrik di Korea tidak bisa ditinggalkan begitu saja karena satu-dua alasan yang sukar ia jelaskan. Maka, kepulangan ini disambutnya antusias yang bercampur gugup.

Tangan Rusli saling mengusap-usap, lalu ditempelkan ke pipinya yang terasa dingin. Di perhatikannya keadaan sekeliling, mengamati wajah para penumpang yang sebagian merupakan orang Indonesia yang seprofesi dengannya. Wajah-wajah yang memendam kerindunan, wajah-wajah yang menyadari makna kata pulang.

Sesekali ia melirik ke jendela, entah menatap barisan awan putih atau sekadar mendapati pantulan dirinya yang tampak samar-samar. Terkadang jendela yang sama juga merefleksikan kelebat bayangan masa lalu. Helaan napas panjang mengawali ritual Rusli akan kenangan-kenangan yang terlintas.

Rusli menerka-nerka bagaimana reaksi warga kampung mengenai kepulangannya. Masih melekat di ingatan Rusli bahwa keputusannya meninggalkan kampung halaman tiga tahun lalu demi merantau ke luar negeri berbuah cibiran orang-orang. Dalam pikiran warga kampung, TKI selalu identik dengan babu atau jongos, profesi rendahan yang dapat mencoreng nama baik kampung itu.

Pikiran warga kampung tidak salah, kenyataan berkata demikian. TKI memang tak jauh-jauh dari pekerjaan kasar macam jongos. Tapi, juga tak ada yang salah hanya karena menjadi seorang TKI. Toh, itu merupakan pekerjaan halal dan tidak merugikan siapa-siapa, jauh lebih baik ketimbang menganggur dan menjadi benalu bagi keluarga.

Rusli bukan tidak tahu, banyak teman-teman seusianya yang pergi ke kota mencari penghidupan layak dengan cara-cara yang tidak baik. Ada yang berprofesi sebagai preman pasar berkedok keamanan, pencopet di terminal, bahkan tukang minta-minta di lampu merah yang berpura-pura pincang atau buta.

Baca juga: Obituarium Origami – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 September 2018)

Hanya saja, Rusli tak mau membela diri dengan membongkar kejelekan orang lain, terlebih jika itu melibatkan teman-temannya sendiri. Adalah Bapak, sosok yang meyakinkan Rusli agar selalu berbesar hati.

“Tak usah membongkar keburukan orang lain agar kamu terlihat lebih baik di mata warga kampung. Seburuk apa pun kamu di mata orang lain karena sebuah pilihan yang sudah diputuskan, bagi keluarga, kamu adalah yang terbaik,” kata Bapak bijak diiringi wajah teduhnya.

Rusli mengangguk takzim. Beruntung ia bisa memiliki sosok seperti Bapak dalam hidupnya.

Advertisements