Cerpen Zyadah (Radar Banyuwangi, 09 September 2018)

Kisah Cinta Paling Sederhana di Dunia ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Kisah Cinta Paling Sederhana di Dunia ilustrasi Radar Banyuwangi 

SELEPAS subuh, seorang lelaki bertubuh tegap berdiri di balkon kamarnya yang tak seberapa lebar. Menghadap ke arah timur, kedua matanya dipejamkan dengan tak begitu rapat. Napasnya berembus dengan pelan dan teratur, menarik ulur urat-urat sarafnya secara perlahan seolah tak boleh ada yang mengendalikan kehendaknya. Bibirnya bergerak pelan-pelan, seperti sedang merapalkan sesuatu.

Rani hafal kebiasaan pagi suaminya itu. Dari arah belakang, dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepiring churros cinnamons, ia pelankan langkahnya supaya tak mengganggu fokus suaminya. Sayang sekali, gemeretak bunyi cangkir yang beradu dengan lapik lebih dulu sampai ke telinga Roy, sehingga lelaki itu membuka matanya dan menyunggingkan senyum, kendati tanpa menoleh. Diletakkannya nampan itu oleh Rani di atas meja.

“Sayang, jangan lupakan aku.” Tak butuh waktu sedetik, tubuh perempuan berambut hitam sepinggang itu telah lesap dalam punggung suaminya. Lelaki itu melepas kedua tangan istrinya yang melingkari tubuhnya, lalu memosisikan dirinya berhadapan dengan perempuan berwajah menyenangkan itu.

“Jangankan untuk melupakanmu. Sejak pertama kali memintamu kepada Tuhan, aku bahkan lupa pada ‘lupa’ itu sendiri.” Jawabnya.

Sinar matahari menghangat di ubun-ubun, berbaur dengan udara sejuk perkebunan. Udara yang berangsur hangat mendadak menimbulkan perasaan dingin di benak Rani. Pakaian rajutnya seolah tak berfungsi. Ia acap kali merasa suaminya itu bertingkah demikian untuk pertama kalinya. Sikapnya yang memikat, nyaris setiap hari dalam enam tahun rumah tangganya. Hari-hari mereka bagaikan pertemuan pertama, begitu membuka mata di pagi hari.

Baca juga: Api Kenangan – Cerpen Latif Fianto (Radar Banyuwangi, 02 September 2018)

“Jadi, kapan kita akan kembali pada rutinitas?” tanya Rani. Ia harus mendongakkan kepala setiap kali berhadapan dengan suaminya itu lantaran jarak tinggi keduanya terpaut cukup jauh, 180 cm dan 160 cm. Tinggi badan Rani hanya sepundak Roy.

“Kau lupa, ya? Besok dan lusa masih tanggal merah. Kita lupakan semua itu dulu. Kamu masih ingat impian kita, bukan?” Roy memegang erat bahu istrinya.

“Ahaa.. Aku bahkan tak henti-hentinya mendambakan putra-putri yang lucu di antara kita.” Keduanya semringah.

Burung-burung terbang membentuk formasi yang indah, hinggap dari dahan ke dahan pepohonan teh di sejauh mata memandang.

***

Advertisements