Cerpen Tjak S Parlan (Media Indonesia, 09 September 2018)

KAU SEDANG MEMBACA APA ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
KAU SEDANG MEMBACA APA ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

KETIKA merebahkan badan, laki-laki itu melihat sebuah layang-layang. Angin tak begitu kencang dan layang-layang itu terlihat tenang—sesekali saja bergerak lamban ke kiri dan ke kanan. Laki-laki itu tersenyum, mencoba meyakini apa yang tiba-tiba muncul dalam benaknya.

“Kau telah berhasil membuat mereka bermain, rupanya.”

Seorang perempuan menoleh kepadanya, lalu tertawa. Perempuan itu sejak tadi sibuk membidikkan mata kamera ke bebukitan di kejauhan.

“Serius. Kau telah berhasil,” tegas laki-laki itu.

“Anak-anak itu pasti sudah sering melakukannya. Kami memanfaatkan bambu bekas dan tas kresek. Juga benang yang sengaja kubawa dari kota,” tanggap perempuan itu, seraya kembali membidikkan kameranya.

Baca juga: Rumah Kecil dengan Pintu Pagar Terbuka – Cerpen Tjak S. Parlan (Padang Ekspres, 15 Juli 2018) 

Laki-laki itu terus memandang ke langit terbuka. Cuaca sore cerah dan angin terasa lebih dingin. Ia merasa cukup beruntung dengan sweater abu-abu yang selalu melekat di tubuhnya sejak gempa dahsyat melanda. Setidaknya, itu bisa mengurangi rasa dingin yang menggigit setiap malam di dalam tenda pengungsian.

“Kapan terakhir kali kau main layang-layang?” tanya perempuan itu.

Laki-laki itu memicingkan mata. Secercah matahari sore jatuh di wajahnya. Seraya mengamati layang-layang yang semakin meninggi, ia bergumam tak jelas.

“Sepertinya semakin tak terkendali,” jawab laki-laki itu seraya mengarahkan telunjuknya ke angkasa.

Layang-layang itu tampak sedang terbang bebas. Rupanya angin bertambah kencang dan layang-layang itu terputus dari benangnya. Perempuan itu memperhatikan beberapa saat. Lalu seolah-olah telah menemukan sudut yang tepat, ia membidikkan kameranya ke angkasa.

“Putus!”

“Iya. Putus!” timpal laki-laki itu.

Baca juga: Arloji – Cerpen Tjak S. Parlan (Padang Ekspres, 26 November 2017)

Laki-laki itu bercerita, sehari sebelum malam yang mencekam itu, ia bersama anaknya mengunjungi sebuah desa di kaki bebukitan. Di desa itu tinggal seorang kerabat dekat yang mempunyai seorang anak laki-laki usia enam tahunan. Anak bungsunya—yang baru menginjak usia lima tahun—selalu bergembira ketika diajak ke sana. Kedua bocah itu begitu akrab. Biasanya, anaknya selalu merengek minta bermain layang-layang. Beruntunglah, di desa itu ada sebuah gerai sederhana yang khusus menjual layang-layang dengan berbagai bentuk dan gaya. Desa itu memiliki hamparan lembah luas dan subur yang dikelilingi jajaran bukit. Biasanya pelancong yang datang ke tempat itu akan senang menyempatkan waktu untuk bermain layang-layang bersama penduduk setempat.

Advertisements