Cerpen Zainul Muttaqin (Padang Ekspres, 09 September 2018)

Karomah Sebatang Lidi ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Karomah Sebatang Lidi ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

LAKI-LAKI sepuh itu berjalan terpincang-pincang, gerak kakinya pendek-pendek.  Tubuh ringkihnya ditumpukan pada sebatang tongkat di tangan kanannya, takut sewaktu-waktu ia terjatuh. Derai batuk juga menggguncang dadanya berkali-kali, tapi tetap saja ia memaksakan diri berjalan menuju langgar yang ia dirikan di samping rumahnya. Langgar itu dipenuhi oleh anak-anak tetangga yang datang mengaji, selalu setiap hari, setiap menjelang adzan magrib.

Kiaji Durahman, pemilik langgar sekaligus guru ngaji itu tak pernah menerima imbalan, bahkan ia selalu menolak ketika ada orang tua anak-anak yang mengaji kepadanya berniat salaman, menyelipkan selembar uang pada tangan keriputnya. Serta merta Kiaji Durahman mengucap, “Ilmu saya tidak untuk dijual.”

Langgar itu sengaja dibangun oleh Kiaji Durahman supaya anak-anak bisa belajar mengaji. Hal ini berdasarkan keprihatinan Kiaji Durahman menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri banyak warga kampung Tang-Batang tidak bisa membaca Al-Quran. Hanya ada segelintir orang yang bisa baca, tetapi sangat buruk sekali cara baca Al-Qurannya. Itulah mengapa Kiaji Durahman tak pernah sudi menerima sepeser pun uang dari para orangtua anak-anak itu. Ia juga pernah berkata, “Semoga ini menjadi bekal akhirat.”

Tidak sedikit pun terlihat gurat kelelahan di wajah Kiaji Durahman ketika ia mengajari anak-anak tetangga itu mengaji, dengan telaten, dengan kesabaran yang teramat tulus untuk ukuran lelaki renta seperti dia. Tidak pernah menyerah Kiaji Durahman mencari cara bagaimana agar anak-anak itu fasih mengaji. Ia mengajarinya mulai dari Alif hingga Ya’ sampai kemudian bisa membaca Al-Quran sendiri, karena orang tua anak-anak itu pasrah sepenuhnya kepada Kiaji Durahman.

Baca juga: Laki-laki di Ketiak Istri – Cerpen Zainul Muttaqin (Lampung Post, 22 Juli 2018) 

Masrakib terlambat mengantar Ibrahim, anaknya itu untuk mengaji. Sepuluh menit yang lalu adzan berkumandang. Kiaji Durahman menyambutnya di bibir pintu langgar. Masrakib bersalaman, mengatakan pada Kiaji Durahman harus buru-buru pulang karena masih ada pekerjaan di rumah. Ia juga berpesan agar Ibrahim dijaga baik-baik dan diajari mengaji dengan cara baik-baik pula.

Keterlambatan Ibrahim tiba di langgar Kiaji Durahman mendapat ledekan dari teman-temannya. Dengan suara yang lirih, Kiaji Durahman mengajari Ibrahim mengaji, mengenalkannya pada huruf-huruf hijaiyyah. Sampai saat ini, setelah hampir dua tahun Ibrahim mengaji, belum juga ia bisa mengenali huruf-huruf hijaiyyah, apalagi membaca Al-Quran dengan lancar seperti teman-teman sebayanya. Ia memang tergolong anak yang kurang cepat dalam belajar mengaji, tetapi cepat dalam belajar ilmu-ilmu eksak.

Advertisements