Cerpen Sam Edy Yuswanto (Jawa Pos, 09 September 2018)

Kabut Asap ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Kabut Asap ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

TELAH tiga kali Meila bermimpi hal serupa. Mimpi yang menurutnya sangat menakutkan sekaligus mengerikan. Di alam mimpinya, ia melihat asap menggumpal, membubung melalui atap rumahnya. Bahkan, mimpi-mimpi itu seperti sebuah tayangan sinetron bersambung. Saling berkaitan satu sama lain dan tampak begitu runtut.

Pada mimpi pertama, Meila sangat terkejut saat melihat gumpalan asap yang muncul secara tiba-tiba dari atap rumahnya. Saat itu Meila tengah bermain ayunan sendirian di halaman rumahnya yang cukup luas dipenuhi tanaman bunga aneka warna. Kedua mata Meila seketika membola saat tiba-tiba melihat asap mengepul tinggi dan terus meninggi, membentuk gumpalan yang kian membesar keluar melalui bagian tengah atap rumahnya.

“Jangan-jangan rumahku kebakaran!” Itulah kalimat pertama yang menyeruak benak Meila secara spontan. Ia pun segera berlari. Menghambur ke dalam rumah yang tidak terkunci seraya berteriak memanggil Bik Inah, pembantu paruh baya yang telah bekerja di rumahnya sejak ia masih bayi.

“Bik Inaah! Rumah kebakaran, Biikk!!”

Namun, rumah tampak begitu sepi. Kosong. Lengang. Meila tak mendapati Bik Inah di dalam rumah. Pun, tak ia temukan sumber asap di sana. Hei, apakah ada yang salah dengan penglihatanku? Batin Meila, me rasa aneh sendiri seraya berbalik dan berlari ke luar rumah.

Baca juga: Kisah Pilu tentang Seutas Tali – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Pikiran Rakyat, 10 Juni 2018)

Dan, Meila pun tercengang. Bibirnya sampai melongo saat kepalanya tengadah tetapi tak ia temui gumpalan asap itu lagi. Pada saat itulah Meila merasa ada yang menepuk-nepuk pelan pundaknya.

“Non Meila, udah jam setengah enam tuh, nanti sekolahnya kesiangan,” suara yang sangat akrab di telinga Meila. Dan, Meila pun membuka kelopak matanya yang masih berasa lengket dan berat. Ditatapnya Bik Inah yang tengah tersenyum lembut sambil memegang gagang sapu. Tiap pagi dan sore Bik Inah memang bertugas membersihkan kamar Meila.

“Papa sama Mama udah berangkat, Bik?” tanya Meila seraya bangkit dengan malas dari ranjangnya.

“Sudah, Non.”

Advertisements