Cerpen A. Warits Rovi (Kedaulatan Rakyat, 09 September 2018)

Garam Merah di Bulan September ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg

Garam Merah di Bulan September ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

HASAN termangu melihat tumpukan garam warna merah di tepi tambak. Matanya berkedip sangat lamban. Tak sedikit pun kakinya bergeser dari tempat ia berdiri, meski beberapa ekor kepiting menggesekkan tubuhnya perlahan.

Kemudian air matanya mengalir, dicucup angin kemarau, kering dan menebal pada garis pipi tuanya yang legam.

Garam yang dipanen di bulan September selalu tampak merah di mata Hasan. Sudah belasan tahun ia selalu ditertawakan orang ketika tiba bulan September, karena ia tak lelah bercerita bahwa garam yang putih berubah warna menjadi merah.

Baca juga: Celurit Lelaki Idiot – Cerpen A.Warits Rovi (Padang Ekspres, 08 Juli 2018)

Sebenarnya Hasan menemukan sebuah kenangan pahit di balik tupukan garam pada bulan September. Puluhan tahun silam, Belanda merampas lahan tambak rakyat dengan cara yang licik. Mula-mula mereka meminjam pepel tambak yang ada di tangan rakyat, lalu secara diam-diam mereka menguasai tambak. Rakyat yang punya tambak, saat itu hanya menjadi kuli garam Belanda dengan upah yang kecil.

Demi meredam amarah rakyat, Belanda berjanji akan memenuhi semua kebutuhan pemilik tambak secara gratis dan akan memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi keluarga pemilik tambak. Tapi janji itu tak pernah ditepati.

Orangtua Hasan yang juga jadi korban perampasan tambak beserta rakyat yang lain mulai mengadakan perlawanan kepada Belanda. Hanya saja perlawanan mereka selalu gagal, karena selain punya senjata yang lebih canggih, Belanda juga punya mata-mata dari kalangan pribumi yang bertugas menggali informasi.

Kala itu, Hasan kecil melihat sendiri; pada suatu malam September yang dingin, ayahnya ditembak mati di tumpukan garam yang ada di tepi tambak, tepat ketika bulan tanggal tua membisu di atas tiang perahu. Amis darah menunggang udara. Hasan kecil berlari menuju jasad ayahnya sambil menjerit histeris. Orang-orang berdatangan membawa suluh. Suluh-suluh berkerumun bagai puluhan kunang-kunang mengerubungi tepi tambak.

Baca juga: Orang Gila di Bawah Papan Iklan – Cerpen A. Warits Rovi (Tribun Jabar, 01 April 2018)

“Begitu ganjaran bagi orang yang melawan kami,” ucap salah satu tentara Belanda dengan pengucapan bahasa Indonesia yang kaku, sebelum akhirnya mereka pergi dengan mobil militernya yang suaranya menyibak kelam.

Di tengah kerumunan orang-orang, Hasan mendekap tubuh ayahnya yang bersimbah darah, ceceran darah di pelipis ayahnya terus memaram tumpukan garam hingga tumpukan garam itu berwarna merah. Orang-orang ikut menangis. Langit membisu dengan lelehan embun duka.

Advertisements