Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 09 September 2018)

Ciprut Melihat Badut ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisa.jpg
Ciprut Melihat Badut ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

“ASEM betul hidupku!” gerutu Ciprut, tatkala membongkar kardus yang ia tenteng. Matanya menatap liar keramaian trotoar di persimpangan jalan yang masih ramai oleh lalu-lalang para pejalan kaki.

Dengan cekatan dia mulai memilah-milah potongan-potongan kostum yang semalam suntuk dia persiapkan. Dua buah sarung tangan, dua buah kardus kecil, kemudian dia paskan di bahu. Satu kardus besar yang agak memanjang untuk badan. Sebuah bola plastik yang dia aniaya sedemikian rupa, hingga bisa menjadi sarang bagi kepalanya yang sedikit botak. Kedua kakinya masih dibiarkan memakai celana pendek warna kelabu.

“Kamu artis sekarang,” dia tepuk-tepuk kepalanya. Teringat tatkala pernah melihat langsung para artis yang di make-up habis-habisan jelang pentas. Itu sewaktu dia menjadi penonton bayaran di sebuah acara televisi swasta nasional. Hampir setahun dia menjadi anggota tim penonton bayaran, sebelum kemudian manajer yang merekrutnya tewas lantaran overdosis.

Dari pengalaman itulah dia mulai mempelajari dunia pertunjukan. Dengan penuh percaya diri, dia mulai mencari sasaran. Beberapa pasang mata yang mengamatinya dari kejauhan dia acuhkan.

Baca juga: Lelaki Kucing Pasar – Cerpen Adi Zamzam (Koran Tempo, 25 Maret 2012)

“Aku tidak memaksa, aku tidak memaksa!” teriaknya ketika beberapa orang terlihat bergegas menjauh darinya.

“Woo… dasar pelit!” umpatnya saat orang-orang itu nyata melarikan diri darinya.

“Asem betul hidupku. Memangnya apa yang mengerikan dariku?!

***

Ciprut menumpuk receh demi receh yang didapat setelah dia hitung dengan teliti. Bau sampah dan bunyi bising di luar tak mengganggu konsentrasi.

“Semprul, aku tadi hampir kena garuk robot-robotan!” suara Jo Kemput memecah suasana hening.

“Di daerah mana?”

“Persimpangan Cilandak KKO. Kostumku juga dirampok…”

Ciprut mendengus, setengah meringis. Persimpangan Cawang, Situ Babakan, Makam Pahlawan Kalibata dan Mal Ambassador melintas dalam kepalanya. Para robot-robotan itu benar-benar menjengkelkan sekali. Mereka seolah rela menyerahkan hidupnya bulat penuh kepada atasan, tanpa memedulikan hati nurani.

Advertisements