Cerpen Ahmad Moehdor Al-Farisi (Pikiran Rakyat, 09 September 2018)

Cerita Nenek ilustrasi Dede Wahyudin - Pikiran Rakyat.jpg
Cerita Nenek ilustrasi Dede Wahyudin/Pikiran Rakyat 

“KAMI pada ngumpet di semak-semak. Rumah-rumah kami pada dibakarin semua. Hanya tersisa beberapa saja yang mereka gunakan untuk tempat mabuk­mabukan.” Aku masih menyimak dengan saksama cerita-cerita Nenek prakemerdekaan Indonesia. Nenek adalah saksi mata kebusukan prajurit-prajurit Belanda. Ia terpisah dengan saudara laki-lakinya ketika lari di tengah hutan. Jangankan berjumpa kembali dengan saudara laki-lakinya itu, mendengar kabarnya saja tidak.

“Banyak teman-teman Nenek yang digilir oleh mereka. Seperti binatang.”

“Diperkosa?” Tanyaku tiba-tiba memotong pembicaraan Nenek. Nenek tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat pembenaran pertanyaanku.

“Gadis-gadis kampung mereka kurung. Tangan dan kakinya diikat persis binatang piaraan. Dikasih makan sekadarnya saja. Kadang malah dikasih air kencing untuk mereka minum. Dari tengah hutan, hampir setiap malam kami mendengar jeritan teman-teman Nenek itu. Sesekali pula dibarengi tawa prajurit-prajurit biadab itu. Kami sudah mengira mereka kembali menggilir, melampiaskan nafsu binatangnya.”

Baca juga: Kekasih dari Bulan – Cerpen Rosi Ochiemuh (Pikiran Rakyat, 02 September 2018)

“Apakah tidak ada yang berani menolong mereka, Nek?” Seperti ada sengatan listrik menjulur di sekujur tubuhku. Entah, tiba-tiba aku menjadi geram.

“Pernah suatu ketika Pak Lurah memberanikan diri keluar dari semak-semak. Ia terus terbayang-bayang akan putri kesayangannya. Kami sudah berusaha mencegahnya untuk tidak keluar, tetapi karena jeritan para gadis kampung yang terus memecah kegelapan hutan, Pak Lurah tidak bisa kami tahan. Dengan garang ia menuju sumber jeritan. Tak lama dari keberaniannya itu, terdengar suara tembakan. Bertubi-tubi.”

Nenek menghentikan ceritanya. Aku melihat ada cairan yang mengalir di pelataran pipinya. Aku pun tak tahan, akhirnya menangis pula. Aku berusaha menebak dalam batin bahwa Pak Lurah mati di ujung senapan para prajurit Belanda itu.

Aku lihat tangan Nenek menggenggam erat-erat bibir kursinya. Lengannya yang sudah tak berdaging terlihat gemetaran. Aku segera masuk ke dalam rumah, mengambilkan segelas air putih. Seusia nenek masih mampu bicara saja aku rasa sudah luar biasa. Apalagi mampu berjalan meski agak sedikit sempoyongan.

Baca juga: Di Balik Kabut Menyulam Rindu – Cerpen Karisna Mega (Pikiran Rakyat, 12 Agustus 2018)

Nenek sudah melewati 82 tahun usia. Kebiasaan unik Nenek yaitu nyirih—mengunyah daun sirih dengan bumbu tembakau, kapur sirih, gambir, dan buah pinang. Mulut keriput yang masih bergigi itu dengan lembut mengunyah bahan-bahan tersebut. Kata Nenek, giginya kuat karena kebiasaan nyirih. Pemah suatu ketika, karena penasaran, diam-diam aku mengambil sehelai daun sirih milik Nenek dan sedikit tembakau. Belum lama kukunyah, isi perut serasa naik ke atas. Hampir muntah aku dibuatnya.

Advertisements