Cerpen Novka Kuaranita (Kompas, 09 September 2018)

Cara-cara Klise Berumah Tangga ilustrasi Ipong Purnama Sidhi - Kompas.jpg
Cara-cara Klise Berumah Tangga ilustrasi Ipong Purnama Sidhi/Kompas 

Malam itu ia mampir ke kios bunga. Tiga blok ke arah timur dari Stasiun Shin-koenji. Tiga tangkai shiragiku, katanya. Lelaki itu meminta krisan putih.

Ia telah merencanakan segala sesuatunya. Sembilan Agustus 2018. Krisan putih dan sampai apartemen sebelum jam delapan. Makan malam dan berbincang-bincang. Ia mengintip jam tangan di balik lengan kemeja, pukul 19.50. Dari kios itu, apartemennya sudah tampak. Lantai kelima, unit paling kiri. Lampu ruang tengah telah dinyalakan; jendelanya berpendar kuning pucat.

Lelaki itu menekan bel apartemennya sendiri. Deringnya janggal, entah karena ia tak terbiasa mendengamya dari luar sini atau lantaran sudah kelewat lama tak berbunyi hingga terasa asing. Dari tempatnya berdiri itu, ia juga menangkap suara beradu alat-alat makan dari kayu. Air keran yang mengucur lalu berhenti. Sesuatu yang dibereskan. Sebelum tapak-tapak kaki bergerak mendekat.

Baca juga: Kapotjes dan Batu yang Terapung – Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 03 Juni 2018)

Seorang perempuan membuka pintu sambil mengatakan rupanya kau sudah pulang. Ia mengenakan terusan katun putih dengan gradasi biru muda di ujung gaunnya. Tubuhnya tampak proporsional di dalam pakaian itu. Dada yang berukuran sedang-sedang saja, pinggang dengan lekuk sewajarnya, dan betis kecil namun berisi di bawah lambaian roknya.

“Ah, kau membawa bunga. Terima kasih,” kata perempuan itu. Ia mengibaskan rambut yang menutupi pipi kanannya dengan menggerakkan kepala searah jarum jam.

“Shiragiku kesukaanmu. Ini ulang tahun pernikahan kita,” balas si lelaki.

Perempuan itu mengusap pipi lelaki itu (baru disadarinya satu dua uban mencuat dari sejumput rambut dekat pelipis si lelaki). Ia mengambil alih bunga itu, lalu masuk dan tampak mencari-cari sesuatu di dapur.

“Vasnya di lemari sebelah kulkas. Laci kedua,” si lelaki tanggap.

“Tentu saja. Bisa-bisanya aku lupa,” tukas yang perempuan.

Baca juga: GoKill – Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 10 Juni 2018)

Ia mengisi vas itu dengan sedikit air, menjejalkan tangkai krisan ke dalamnya, lalu meletakkannya di atas kulkas. Si lelaki mengambil vas itu dan memindahkannya ke meja makan. “Di sini kau selalu menaruhnya,” katanya pada satu-satunya lawan bicaranya di ruangan itu.

“Okonomiyaki?” tanya perempuan itu, yang sudah sibuk mengelap entah apa di dapur.

“Tentu.” Lelaki itu sengaja tidak membeli onigiri di kedai langganannya dekat stasiun malam ini.

Advertisements