Cerpen Jelsyah Dauleng (Haluan, 08-09 September 2018)

Firasat ilustrasi Wikihow - Haluan.jpg
Firasat ilustrasi Istimewa

Aku lahir hari Rabu. Lalu, ada apa dengan Rabu? Ah. Entah kenapa Rabu menjadi menakutkan akhir-akhir ini. Aku tak tenang saat tidur di malam hari. Butuh waktu lama agar bisa memejamkan mata untuk lelap. Tak melihat jam yang telah berganti subuh, mungkin saat itu aku tidur. Siang hari tak kalah menakutkan. Aku harus berpikir ratusan kali hanya untuk memilih naik angkot, bus, metromini, atau mungkin ojek saja. Sore pun, tak kalah menakutkan, aku berpikir ribuan kali apa harus makan mie atau nasi saja.

Kalau begini terus, apa yang harus kulakukan. Aku jadi tak tenang. Tak punya minat untuk keluar rumah bertemu teman atau kekasih. Kalau begini, aku lebih baik berbaring atau menelungkup saja di ruang yang kecil. Karena jika ruangan itu besar, aku merasa seseorang memperhatikan. Dan saat mataku membelalak, tak seorang pun di sini. Apa itu aneh? Sudahlah, aku akan membiarkan saja hari ini. Seperti hari-hari kemarin. Membiarkan.

Tentu saja tak bisa. Aku menggigit bibir. Matahari kembali bersembunyi. Tak akan ada yang tahu bagaimana aku menderita saat ini. Mereka bilang, sekarang saatnya istirahat, melepas penat. Tetapi berbeda denganku, sekarang waktunya otakku memproses kata, “hei, kau ini hanya wanita gila.” Apa aku gila? Aku menelan ludah sendiri.

Bisa kupastikan setelah berpuluh menit berpikir; aku tak gila. Aku masih bisa mengerti setiap kata yang diucapkan teman atau saudara. Mereka bilang, “ini karena kau sendiri, kau hanya merasa kesepian.”

Kesepian? Siapa yang kesepian? Aku memang sendiri di rumah, tapi di kampus aku bersama yang lain. Aku malah merasa akan pergi. Kugigit lagi bibirku. Ah, mengucapkannya saja aku tak kuat. Tak berani. Takut.

Baca juga: Semaun dan Kalung Kafan di Lehernya – Cerpen Ana Nurhasanah (Haluan, 01-02 September 2018)

Memangnya apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa ini sejenis firasat? Seperti, bahwa kau tak akan lama lagi di dunia? Atau seperti, kau sebenarnya bukan makhluk bumi, kau ini makhluk dari tempat lain yang terkirim ke bumi. Tentu saja itu konyol. Aku punya orang tua. Punya ibu dan ayah. Jadi, bisa dipastikan aku bukan makhluk asing atau aneh.

Ah, ini semua hanya tentang perasaan. Perasaan yang mungkin orang lain juga akan merasakan. Seperti takut pada hari lahir karena pernah membaca bahwa semua makhluk akan kembali ke tanah pada hari yang sama saat ia muncul. Atau seperti merasa mendengar suara-suara aneh. Mendengar hewan-hewan berbicara. Ah, tikus itu mengganggu saja.

Advertisements