Cerpen Rifan Nazhif (Berita Pagi, 08 September 2018)

Di Balik Rumpun Semak Berduri ilustrasi Jay - Berita Pagi.jpg
Di Balik Rumpun Semak Berduri ilustrasi Jay/Berita Pagi 

Di balik rumpun semak berduri itu, konon, dia lahir. Suaranya mengganggu senyap dini hari. Induk dan anak ayam, menjelma riuh. Memaksa sang jantan berkokok, mengira waktu shubuh tiba. Langkah kaki pun terdengar bergegas. Semua berhenti di dekat rumpun semak berduri itu. Sesama mata saling tatap. Sesama mulut bisu. Nyi Bedah buru-buru menggendong pemilik suara itu. Membalut tubuhnya dengan mukena yang belum dia lepas selepas shalat tahajud.

“Anak siapa, Nyi?” tanya seorang lelaki yang matanya masih rapat menahan kantuk.

“Anak siapa katamu? Memang ada yang tahu dia anak siapa? Seorang bayi yang lahir di balik semak, di dalam got, di pinggir kali, pastilah untuk mengaburkan siapa orang tuanya.” Mbah Murad melotot ke arah lelaki itu. Lalu, si Mbah buru-buru berlari ke arah jamban umum. Dia lupa hajat awal, karena terganggu suara bayi itu.

Baca juga: Haji Moraldin – Cerpen Rifan Nazhif (Republika, 28 Oktober 2012)

Nyi Bedah memelihara bayi itu sampai dewasa. Dia  tak mengirimnya ke sekolah, kecuali mengajarnya cara mengais rejeki. Bagaimana mengadon gado-gado yang enak, hingga disukai pembeli. Bagaimana meramu kopi, hingga membuat penikmat betah berlama-lama di kedai. Kendati tanpa kepintaran mengadon dan meramu itu, sebenarnya pengunjung tetap ramai merubung kedai Nyi Bedah. Seperti tabiat kumbang, pastilah merubung kembang yang manis.

Perkenalan dengan Mat Borak, kemudian memberi jarak antara perempuan dewasa itu dengan Nyi Bedah. Dia menjadi lebih sering mengotori badannya dengan parfum, melumur wajah dengan gincu dan bedak tebal. Tak lagi tubuhnya berbau bumbu gado-gado. Tak pula bajunya terpercik tumpahan kopi. Dia yang awalnya kembang mawar di jalanan, menjelma kembang mawar di jambangan.

***

Di sebuah taman disiram cahaya lampu temaram, dua insan itu saling memagut tangan. “Kau serius mau menikah denganku, Mirah?” tanya Sukamto, semakin memagutkan tangannya.

Baca juga: Surat Tanah – Cerpen Rifan Nazhif  (Republika, 26 Februari 2012)

“Harusnya aku yang bertanya kepadamu, Mas.” Mirah melepaskan tangan yang berpagut. Dia mendongak menatap langit. Bulan di sana itu seolah lebih indah menawan ketika dia bersama Sukamto. Padahal bulan itu adalah bulan yang sama yang dia lihat bersama Nyi Bedah ketika mereka melepas lelah di bale-bale depan kedai. Asmara memang membuat dunia semakin indah dan berwarna.

Advertisements