Cerpen Herumawan PA (Kedaulatan Rakyat, 02 September 2018)

Toa ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg

Toa ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

DI tempatku yang baru ini, aku cukup sering mendengar pengumuman yang disampaikan lewat pengeras suara toa di balai desa. Kadangkala pengumumannya berupa adanya berita lelayu, acara pengajian, arisan ibu-ibu atau bapak-bapak, acara kelompok tani hingga acara senam lansia. Setiap mendengar ada pengumuman, aku akan memperhatikan dengan seksama.

Suatu pagi ketika aku sedang asyik melihat televisi, tiba-tiba terdengar suara pengumuman dari kejauhan. Aku langsung mengecilkan volume televisi. Mengira itu suatu pengumuman penting. Lalu memperhatikan dengan seksama.

Tapi kemudian aku malah dibuat tersenyum karena ternyata pengumumannya berbunyi, “Tes.. Tes… Tes 1 2 3, Tes 1 2 3… .”

Ayah yang sedang sarapan pagi heran melihatku tersenyum sendiri lalu bertanya, “Kok senyum-senyum sendiri?”

“Tadi aku kira pengumuman penting, eh bukan,” jawabku. Ayah mengangguk kemudian berjalan membawa piring bekas sarapan paginya ke belakang.

Lalu kemudian terdengar pengumuman lagi. Kali ini aku yakin tak akan seperti yang tadi. Satu berita lelayu diumumkan. Lalu kudengar ia menyebut jam 14.00. Aku hampir tertawa, tapi kutahan.

Dan benar saja, orang yang mengumumkannya buru-buru meralatnya jadi jam 02.00. Ternyata ia salah baca, jam 14.00 itu waktu memakamkan bukan meninggalnya. Aku jadi kembali tersenyum sendiri.

“Lho senyum-senyum sendiri lagi. Ada apa lho kali ini?” Ayah tiba-tiba muncul dari ruang belakang.

“Tadi orang salah umumkan waktu meninggalnya terus langsung diralat.” Ayah ikutan tersenyum mendengar ceritaku.

“Toa terkadang bisa jadi cerita menyenangkan.” Ayah berkata sambil mengambil posisi duduk di sebelahku.

“Tapi sayangnya tak semua toa begitu. Ada yang jadi menyeramkan, membuat pekak telinga.” Ayah mengangguk kecil mendengar sahutanku.

Aku pun merenung dalam hati, “Toa, seandainya bisa memilih, apakah akan tetap mengabarkan meskipun suara yang keluar itu parau ataukah akan diam saja, pura-pura rusak?” Tapi toa tak bisa memilih, ia hanyalah benda mati yang mengikuti keinginan orang menggunakannya.

Advertisements