Cerpen Supartika (Kompas, 02 September 2018)

Sepotong Tulang dengan Daging Kering yang Menempel di Sisinya ilustrasi Dyan Anggraini - Kompas
Sepotong Tulang dengan Daging Kering yang Menempel di Sisinya ilustrasi Dyan Anggraini/Kompas 

Kau tahu? Waktu itu, anak itu masih sangat kecil. Belum bisa bilang mama papa, dan seharusnya baru bisa bilang “abaabaaba” walaupun sepanjang aku di sana ia tak pernah mengeluarkan suara atau lebih tepatnya suaranya tak mau keluar. Jika kau berada di sana waktu itu, maka kau akan menemukan ia yang kurus kering dan mengap-mengap di pangkuan ibunya tanpa ada suara yang keluar sedikit pun dari mulutnya.

Ya, ibunya dengan pandangan mata sayu duduk di atas batu di samping pintu masuk gubuknya yang nyaris tak berbentuk tempat tinggal manusia sambil memangku anak itu. Dinding gubuk yang terbuat dari bambu yang dibelah telah berlubang di sana-sini. Bahkan dari lubang dinding gubuknya itu, bisa masuk dengan bebas seekor anjing gemuk. Ia yang seharusnya waktu itu berbobot empat kilo lebih sebagaimana anak normal seumurannya, namun ia mungkin hanya memiliki bobot sekilo kurang. Dan mungkin lebih ringan dari berat anak anjing yang baru lahir kemarin. Dengan kulit kehitaman, tangannya layu, bola mata yang seakan keluar dari tempat semestinya, tubuh yang bagaikan tulang terbungkus kulit, dan kebesaran kepala. Apalagi mampu berjalan atau berlari, untuk duduk atau merangkak saja ia tak akan bisa. Aku yakin ia tak akan mampu. Tak bertenaga.

Sesekali kulihat ibunya melihat mata anaknya yang keruh dan kemerahan. Tangan ibunya yang juga sangat kurus mengelus rambut anaknya yang tipis kemerahan sebelum akhirnya pandangan itu diarahkan ke sekelilingnya, dan melihat pohon-pohon yang hanya tinggal batang menghitam, tanah gersang, dan hawa panas yang luar biasa, serta di kejauhan terlihat samar-samar asap yang mungkin ditimbulkan oleh batang pohon yang terbakar terik matahari.

Di samping ibunya, ada segelas kecil air yang warnanya tak bening lagi. Air itu sangat keruh. Lebih keruh dari air selokan yang naik ke jalan setiap banjir datang. Mulut anak itu terus saja mengap-mengap seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tak ada suara yang keluar yang dibarengi dengan sedikit gerakan tangan ataupun kaki tanpa tenaga. Setiap mengap-mengap, dari mulutnya meleler air liur yang kemudian diusap oleh ibunya dengan tangan dan selanjutnya diusapkan di bajunya.

Sesekali aku juga melihat ibunya mengambil air di sampingnya. Meninggikan letak kepala anaknya lalu mendekatkan bibir gelas itu ke mulut anaknya dan menyuapinya perlahan-lahan, mungkin takut kalau anaknya sampai tersedak. Seteguk air, membuat ia tak mengap-mengap lagi untuk beberapa detik. Kadang-kadang tangan kurus kering ibunya juga mengambil air itu, kemudian diteguknya satu tegukan untuk ditaruh kembali di sampingnya. Terdengar suara “glek” ketika seteguk air itu melewati kerongkongan ibunya.

Ketika matahari sedikit condong ke barat, dari kejauhan, tampak seorang lelaki berjalan dengan tergesa-gesa mendekati gubuk itu, dengan tubuh gontai dan langkah kaki tak teratur. Setelah mendekat terlihatlah muka lelaki itu sangat kotor dengan kumis dan janggut yang tumbuh lebat tak pernah dirawat, rambut panjang berantakan dan penuh daki, tubuhnya kurus kering dan ceking dengan kulit menghitam terbakar matahari. Lelaki itu hanya mengenakan celana kolor robek dan kumal serta kebesaran sehingga harus diikat pada bagian pinggangnya dengan tali dan beralan tanpa menggunakan alas kaki.

Advertisements