Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 02 September 2018)

Percumbuan Topeng ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Percumbuan Topeng ilustrasi Suara Merdeka

Kamar kosong yang ditinggalkan Dewi Laksmi, setelah menikah, masih rapi seperti sediakala. Topeng-topeng tertata di dinding. Topeng panji, topeng losari, topeng malangan, topeng raksasa, topeng tari khon Thailand, topeng noh Jepang, topeng leak, dan topeng para badut. Masih banyak topeng tak diketahui dari mana berasal. Gani memandangi topeng-topeng itu, dengan perasaan tak paham kenapa Dewi Laksmi, anak perempuannya, menyukai dan memasang topeng-topeng di dinding kamar. Tiap kali Dewi Laksmi bepergian menari, ke mana pun, selalu memburu topeng. Sesekali memang Dewi Laksmi menggunakan topeng-topeng itu untuk menari. Tetapi ia lebih banyak membeli topeng untuk memenuhi dinding kamar.

Sebelum pensiun, Gani tak pernah memperhatikan suasana kamar putri bungsunya. Setelah Gani pensiun, Dewi Laksmi menikah dan menempati rumahnya sendiri, barulah ia memiliki waktu luang mengamati keanehan kamar penuh topeng itu. Topeng-topeng memenuhi dinding kamar. Topeng-topeng itu seperti berkisah mengenai kehidupan manusia dari tanah asal yang jauh. Memang Dewi Laksmi berkali-kali menjelajah beberapa negara untuk menari. Mungkin kebiasaannya mengoleksi topeng sekadar kegemaran, bukan tuntutan dari dalam jiwa. Atau inikah simbol yang Dewi Laksmi ingin katakan bahwa manusia di sekelilingnya menjalani hidup dengan kedok, dengan kepalsuan perangai?

Tinggal seorang diri di rumah, dalam kecanggungan menjalani sepi hari-hari setelah pensiun, Gani jadi punya waktu merenungkan kebiasaan-kebiasaan putri bungsunya. Ia tak tahu apa yang putri bungsunya itu lakukan menjelang tidur. Apa dia memandangi topeng-topeng itu? Begitu pula ketika bangun tidur, apakah ia merenungi karakter topeng-topeng itu? Lalu, apa yang membuatnya bahagia?

Baca juga: Kehidupan di Dasar Telaga – Cerpen S Prasetyo Utomo (Kompas, 12 Februari 2017)

Ketika memandangi topeng di dinding itu banyak yang kosong, tak terpasang di tempatnya, barulah Gani sadar pastilah Dewi Laksmi telah mengambilnya. Mungkin untuk keperluan tari. Gani mengikuti suara hatinya untuk menemukan kembali topeng-topeng yang telah diambil dari dinding kamar. Ia bergegas ke sanggar tari. Dia lihat gadis-gadis menari dengan aneka topeng terpasang di muka mereka, lebih bergairah, lebih memukau. Baru kali ini ia tersadar akan daya pikat topeng-topeng yang telah menjadikannya terpana. Lama ia memandangi gadis-gadis menari. Takjub. Sesekali berdecak kagum. Ia tergerak memahami rahasia topeng. Ia mendatangi seorang pemahat topeng.

***

Langkah Gani mencapai pelataran rumah Widi, pemahat topeng. Dia lihat Widi suntuk memahat, dan tak berpaling dari topeng yang digarap. Gani memandangi Widi dari jarak sangat dekat, berhadap-hadapan. Tetapi Widi sama sakali tak berpaling dari topeng yang sedang dia haluskan pahatannya. Widi baru tersentak setelah mengangkat topeng, mengamati dari jarak dekat, tampak Gani berdiri di hadapannya.

Advertisements