Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 02 September 2018)

Pencuri Kesunyian ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Pencuri Kesunyian ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

KAU tahu kenapa kau ditangkap dan digiring kemari? Aku yakin kau terkejut saat anak buahku menangkapmu. Jangan diambil hati, mereka hanya menjalankan tugas. Apakah mereka telah berlaku kasar kepadamu? Pasti tidak. Kau tahu, saat pertama kali melihat tampangmu, aku tak yakin kalau kau ini seorang perusuh. Baiklah, agar aku tidak salah tangkap orang, sebaiknya kau kau jujur padaku. Ingat, ju-jur! Jadi, cepatlah, ceritakan.

***

Aku memang tidak tahu apa salahku sampai anak buahmu menangkapku. Setahuku, aku tidak pernah membuat kesalahan. Meski aku ini miskin, aku masih tahu aturan. Sumpah, Pak, aku tidak tahu harus bercerita apa. Tapi, jika Bapak ingin tahu peristiwa apa yang terjadi pada malam itu, baiklah, aku ceritakan.

Malam itu, kami—aku dan Sum (istriku)—tiba-tiba merasa bosan dengan kehidupan (kemiskinan) kami. Lalu, Sum mengajakku bangkit dari kasur untuk kemudian berkumpul di ruang tamu kami yang sempit. Dia punya ide untuk mengusir kebosanan kami itu.

“Kita, Sup, sudah terlalu lama tak bahagia, terlalu lama tak tertawa. Mari buat malam ini menjadi meriah dengan cara kita,” kata Sum penuh semangat.

Baru kali itu aku melihat Sum terlihat lebih hidup dari sebelum-sebelumnya. Sedang biasanya, setiap selesai azan Isya, dia sudah mengajakku tidur karena, memang, kami terlampau lelah untuk melakukan kegiatan lainnya, meski hal yang paling remeh sekalipun. Aku bekerja menjadi tukang bangunan, dan Sum sendiri bekerja sebagai tukang cuci harian. Sum terpaksa ikut bekerja, karena terlalu banyak hutang yang harus dilunasi, juga ada empat perut yang harus dibuat kenyang.

Baca juga: Meme – Cerpen Agus Salim (Kedaulatan Rakyat, 12 November 2017) 

Setelah ada di ruang tamu, kami berembuk.

“Apa yang akan kita lakukan, Sum, agar bisa bahagia, agar bisa tertawa?”

“Aku juga tidak tahu, Sup.”

“Kalau sama-sama tidak tahu, lebih baik kita tidur saja.”

“Tidak. Aku ingin bahagia dan tertawa malam ini.”

Kami pun berpikir tentang hal apa yang bisa membuat kami bisa bahagia dan tertawa. Lalu, Sum, menyampaikan pendapat.

“Bagaimana kalau kita buat drama?”

“Drama apa?”

“Drama yang bisa mengambarkan kalau rumah tangga kita ini bahagia.”

Advertisements