Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 September 2018)

Obituarium Origami ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Obituarium Origami ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

“Tuhan selalu bersama orang-orang yang sedih dan ke sepian,” kata Ayah dahulu kepadaku. “Maka ketika kau bersedih, berdoalah dan berharap. Tuhan selalu mendengarkan doa mereka.”

Aku mengingat betul kalimat Ayah itu. Setiap malam ketika orang-orang terlelap dalam mimpi manisnya di kamp pengungsian, aku acap melabuhkan sebuah lipatan origami berisi harapan dan doa. Aku melarutkannya di parit-parit kecil dengan genangan air berwarna coklat. Kemudian aku berharap, para origami itu tiba di rumah Tuhan yang terletak jauh di ujung sana. Aku percaya Tuhan ada di mana-mana, Dia berada di setiap kesedihan dan kebahagian umat-Nya. Maka sebab itu, seperti kata Ayah pula, aku tak jemu mengirimkan lipatan-lipatan origami kertas yang telah kuguratkan dengan bisikan doa dan harapan di dalamnya.

Begitulah. Kebisaan aneh ini acap aku lakukan selama beberapa kali terakhir, setelah sebuah gempa besar melanda kotaku. Aku melakukan ini hanya ingin mengirimkan, dan memastikan, salam rinduku pada Ayah dan Ibu yang kini entah berada di mana. Gempa bumi dan disusul tsunami besar telah membawa mereka hanyut ke suatu tempat yang tak aku ketahui, ke dunia antah-berantah yang masih ada di bumi atau sebaliknya. Tempat tak terdeteksi yang memisahkan kami. Bencana itu juga sudah menggulung setiap pintal kenangan di kampung halamanku. Tidak ada lagi yang aku miliki saat ini. Teman-teman, kerabat, dan hangatnya tempat untuk berteduh. Semuanya raib dihancurkan oleh nasib!

Baca juga: Tendangan Dua Belas Pas – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 15 Juli 2018)

Aku sekarang hidup sebatang kara sebagai anak-anak korban bencana yang entah memiliki masa depan atau tidak. Oleh sebab itu, waktu rasa rindu dan sedih datang bersamaan, aku acap membuat origami kertas yang di dalamnya telah kuguratkan harapan dan doa-doaku kepada setiap orang yang aku cintai. Malam ini demikian. Aku kembali menghanyutkan origami kertas di parit kecil dekat pengungsian. Hati-hati aku menyelinap keluar; membawa origami-origami kertas yang di dalamnya sudah aku tulis doa-doa dan harapanku. Aku menghanyutkannya dan memandang origami-origami kertasku terseok-seok diseret arus parit. Sesekali aku memejam mata dan berharap, origami-origami itu sampai ke rumah Tuhan.

***

Pengungsian itu tampak murung. Banyak orang yang kehilangan kerabat dan harta karena bencana ini. Pekik tangis seolah menjadi pemanis kamp setiap hari. Mungkin terikan tangis itu sudah menggumpal dan memenuhi sela-sela sudut tempat. Aku sendiri hanya termenung menyaksikan kepiluan demi kepiluan yang datang silih berganti.

Advertisements