Cerpen A. Warits Rovi (Jawa Pos, 02 September 2018)

Lelaki Herbivora ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Lelaki Herbivora ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

SETELAH akad nikah, aku rindu harum rumput atau daun srikaya di pekarangan rumah. Aneka makanan istimewa hidangan pesta pernikahan sama sekali tak membuat lidahku tergoda. Kuabaikan kue-kue pernikahan beralas daun pisang yang menumpuk di sebuah piring. Sesekali dikunjungi semut. Aku tidak menginginkannya. Aku ingin rumput atau daun.

Sejak masih berpacaran, Sofi tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Ia juga tidak tahu aku keturunan siapa. Dan ini kelemahan hubungan cinta anak sekarang. Yang diperhitungkan hanya orang yang ia cintai, jarang yang melihat silsilah nasab hingga ke kakek-nenek.

Moyangku asli Madura, orang yang punya rasa malu apabila dirinya berbuat cela di mata orang lain. Begitu cara nenek moyang menjunjung martabatnya. Dahulu kala, ketika zaman penjajahan, masyarakat Madura—termasuk nenek moyangku—hidup dalam cengkeram kemiskinan. Harta benda mereka dirampas tentara Jepang. Saat itu moyangku memilih makan daun daripada harus mencuri, merampok, mengemis, dan atau berbuat curang lainnya. Prinsip itu mereka wariskan secara turun-temurun hingga akhirnya sampai kepadaku.

Aku mendapat wasiat prinsip itu dari kakek. “Jangan sekali-kali mencuri atau korupsi. Daripada perutmu makan hasil uang haram, lebih baik makan daun saja. Percayalah bahwa sapi-sapi itu lebih terhormat daripada pencuri dan koruptor,” nasihat kakek kepadaku pada suatu hari ketika aku berkunjung ke rumahnya.

Baca juga: Celurit Lelaki Idiot – Cerpen A.Warits Rovi (Padang Ekspres, 08 Juli 2018) 

Tahun 1930-an keadaan masih tidak stabil. Tentara Jepang berkeliaran di dusun-dusun dengan senjata lengkap yang selalu ditenteng di tangan. Ayah sebagaimana warga lainnya tidak bisa bekerja. Keluargaku diterpa kemiskinan. Nasi hanyalah jadi mimpi indah bagi lidah dan perut.

Ketika lapar, kami cukup keluar ke pekarangan lewat pintu dapur. Di pekarangan itu, rumput tumbuh subur dan empat batang pohon srikaya berdaun lebat. Di sanalah ayah mengajariku mengunyah daun. Lembar-lembar daun srikaya bergemeretak karena geraham ayah mengunyah kuat urat-urat daunnya sampai halus. Lalu, ayah menelannya sambil memejamkan mata.

Kemudian, tangan ayah kembali memetik daun srikaya itu hingga seukuran genggaman tangan. Ia mengunyahnya lagi. Aku ngeri melihatnya. Ayah seperti sapi.

Advertisements