Cerpen Rahmawati (Fajar, 02 September 2018)

Kue Bude ilustrasi Fajar.jpg
Kue Bude ilustrasi Fajar 

Kue Bude sangat enak. Siapa pun yang mengawankan ujung lidahnya dengan kue Bude, pasti akan gila jika mengatakan bahwa kue Bude tidak enak. Bahkan kue-kue yang ada di etalase-etalase gedung ternama, akan kalah dengan kue bikinan Bude. Meski hanya tiga atau empat macam rupa kuenya, bikinan Bude tetap yang paling dicari. Orang-orang akan menangis apabila tidak membiarkan kue Bude menjamah tenggorokannya meski hanya sehari saja. Meja makan tiap-tiap rumah akan hancur dan dirobohkan oleh penghuni rumah manakala kue bikinan Bude tidak terhidangkan di sana. Orang-orang bahkan akan bermalam di depan rumah Bude untuk mendapatkan kue panas Bude. Akh, kue dingin tak masalah asal tetap berasal dari tangan Bude. Semua orang gila, gila karena telah menggilai kue Bude yang memiliki rasa yang menggila di seantero kota yang gila.

Bude bukan wanita yang ayu. Tinggi 152 cm, bobot lebih dari 70-an, kulit hitam arang, rambut hitam legam dan bergelombang, sorot mata yang biasa saja, susunan gigi yang bahkan berantakan. Bude adalah wanita yang sangat biasa. Balutan daster berwarna pudar adalah kain favoritnya, usia yang sudah senja mampu menciptakan garis-garis halus di sekitar wajahnya. Jari-jari tangan yang besar dan kasar tidak akan cocok dengan berlian manapun. Satu yang menjadi perbedaan, ia punya leher mallere’. Menurut orang bugis, seseorang yang memiliki perawakan leher seperti itu adalah orang yang beruntung. Betul juga kalau mau dilogikakan, sebab yang mempunyai leher bergelombang seperti itu kemungkinan 20% dari penduduk dunia. Meski begitu, tetap saja dia bukan wanita yang cantik. Meski pula tak cantik, Bude tetap dilirik dan menarik hati orang-orang.

“Mau ke mana?” Pertanyaan seorang Ayah kepada pemudanya di pagi yang masih buta. Si anak masih sibuk menyisir samping rambutnya di depan cermin.

Baca juga: Tikus Raskin – Cerpen Kartika Catur Pelita (Fajar, 29 Juli 2018)

“Aku ingin ke rumah Bude.” Jawabnya singkat tanpa mengalih pandang.

“Sepagi ini? Ah bukan, maksudku subuh ini?” Sang ayah sangsi namun ia tak kuat menahan pertanyaan itu dan memilih untuk memuntahkannya. Si anak menciptakan sebuah senyuman. Bukan senyum sebagai respons ‘iya’ kepada ayahnya, namun senyum yang menandakan bahwa penampilannya ini dapat membunuh mata dan membuka hati bagi orang-orang yang melihatnya.

“Aku merindukan kue Bude ayah.”

Advertisements