Cerpen Yetti A.KA (Tribun Jabar, 02 September 2018)

Ketua Klub Gosip ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar.jpg
Ketua Klub Gosip ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar 

DALAM keluarga kami, nenekku orang yang paling senang memunguti cerita di luar dan membawanya pulang ke rumah. Ia senang berkumpul bersama perempuan-perempuan tua dan bergosip tentang kejadian yang berkembang di sekitar tempat tinggal kami. Setiap pulang, nenekku berhenti di pintu dan berkata: kalian tahu, perawan tua Sima baru saja pulang membawa bayi tanpa seorang suami. Kalian tahu, bandot Jogi ketahuan mengintip gadis-gadis di pemandian umum. Kalian tahu, arwah pelacur Lili tidak tenang di dalam kubur karena ia belum melunasi utang pakaian dalamnya di Senza Lingerie Shop. Kalian tahu, keluarga Pam Lala—nama panggilan anak tertua dalam keluarga yang gemar menyanyi itu—baru saja bertengkar dengan petugas air ledeng karena tidak membayar tagihan berbulan-bulan lamanya.

Aku, yang ketika itu sudah berumur tiga belas, dan adikku, sembilan tahun, kerap tertegun mendengar kabar yang disampaikan Nenek. Biasanya, Ibu cepat-cepat menggiring kami ke kamar. Di rumah, Ibu satu-satunya orang yang berusaha keras menjauhkan kami dari gosip seputar kemerosotan moral. Kami tidak boleh mendengar gosip soal perempuan muda hamil di luar nikah, sepasang kekasih yang tertangkap mesum, seorang kakek tua yang mencabuli anak-anak di balik menara listrik, atau maling yang digebuki warga sampai babak belur.

Adikku mengaku, ia senang bila punya hal fantastis yang bisa diceritakan kepada teman-temannya di sekolah. Ia memang suka mencari perhatian dengan cara seperti itu, termasuk juga membawa kartu-kartu bergambar bintang porno. Teman-temannya akan menganggap ia memiliki pengetahuan dan keberanian melebihi anak-anak lain dan besoknya ia harus melakukannya lagi bila masih ingin mendapat pujian yang sama. “Itu dosa,” kataku meniru ucapan ibuku dalam menanggapi sesuatu yang dianggap kotor dan menyimpang. Adikku cengar-cengir dan tidak begitu tertarik atas hal-hal yang berbau spiritual. Kata ibuku, “Itu karena pengaruh nenekmu yang tidak pernah pergi ke rumah ibadah.” Ibu mengatakannya kepadaku saat Nenek sedang berkumpul bersama klub gosipnya yang terdiri dari lima orang—tapi, kata adikku, jumlah mereka kadang mencapai enam hingga tujuh—yang mungkin saja tidak pernah menutup mata dan telinga sepanjang hidup mereka, bahkan di saat sedang tidur. Sebagai ketua klub gosip, Nenek mengumpulkan mereka di beranda rumah salah seorang dari anggota klub dan mereka bicara dengan setengah berbisik bila sedang membincangkan skandal orang-orang di sekitar tempat tinggal kami. Ibuku pernah bilang, sudah pasti dengan nada kesal, bahwa nenekku itu membuang terlalu banyak waktu dengan kegiatan yang sama sekali tidak berguna dan dibenci Tuhan. Sebaliknya, ayahku, sebagai anak satu-satunya nenekku, berpendapat, klub gosip itu telah membuat nenekku senantiasa sehat dan panjang umur.

Advertisements