Cerpen Rosi Ochiemuh (Pikiran Rakyat, 02 September 2018)

Terbelenggu ilustrasi Safa'at Zhein - Pikiran Rakyat.jpg
Terbelenggu ilustrasi Safa’at Zhein/Pikiran Rakyat 

KEDUA matanya tertambat pada bulan purnama di malam itu. Semilir angin malam sedikit bertingkah membelai poni rambutnya yang panjang. Usia tiga puluh lima tahun yang menyedihkan untuk pria itu ketika semua teman-teman sebayanya sudah punya pasangan hidup dan keluarga.

HAMPIR tak punya daya saat sanak keluarga dari orangtuanya menanyakan, “Kapan  menikah?” Dan komentar terus berhamburan tanpa pernah membiarkan sedikit saja menjawab. Pria itu sebenarnya termasuk tampan sekitar lima belas tahun lalu sebelum jambang dan kumis terpelihara pada wajah yang berahang lebar. Kini ketampanannya seolah habis, sejak Gugun enam kali putus hubungan asmaranya tanpa sebab dan lima kali gagal ke jenjang pernikahan. Hanya karena hobinya melukis. Sampai saat ini, pria itu masih melukis dan memandangi bulan setiap malamnya.

“Tidak ada perempuan yang akan mau denganmu, jika pekerjaanmu hanya begitu.”

Bahkan kedua orangtuanya tak bisa melakukan banyak hal untuk meyakinkan Gugun cari pekerjaan yang janjikan masa depan cerah. Seperti kerja di kantoran, jadi pengusaha, pebisnis atau bekerja di perusahaan lain.

“Saya suka melakukan sesuatu yang benar-benar senang melakukannya, bukan terpaksa,” ujarnya pada orangtua waktu itu, lima tahun lalu.

Lukisan yang dibuatnya pun tak bisa dipahami orang awam seperti keluarganya. Gugun lebih suka melukis berbagai imajinasi, seperti bulan merah marun di antara latar biru gelap dan perpaduan abstrak. Melukis wajah perempuan serupa bayangan, sesuatu yang tak dimengerti objek apa yang dia lukis. Tetapi Gugun tetap melukis hingga suatu hari beberapa lukisannya terpajang pada festival seni sekabupaten di gedung Galery Graha termasuk seni rupa. Informasi itu didapat dari temannya di dunia maya.

Gugun masih duduk di teras depan kamarnya lantai dua. Terpikat pada bulan di langit sana. Seandainya saja, semua gosip tentang dirinya bisa dipatahkan hanya dengan satu perempuan yang mencintai apa adanya. Saat acara keluarga datang di rumahnya, beberapa di antara mereka selalu membawa cibiran berupa sindiran tentang dirinya. Pria itu seolah jadi bahan gosip di antara sepupu dan kerabat keluarga.

“Apa salahnya saya belum menikah?” tegur Gugun kala bisik itu terdengar serupa duri ditelinga.

Advertisements