Cerpen Muhammad Daffa (Radar Banjarmasin, 02 September 2018)

Hantu Marina ilustrasi Istimewa.jpg
Hantu Marina ilustrasi Istimewa 

Seorang ibu mengadu pagi Senin lalu di ruang kepala sekolah SDN KOTA 1. Ibu itu bercerita tentang anak perempuannya yang jari manisnya putus karena digigit oleh seorang siswa baru, Marina. Maka kepala sekolah pun memanggil Marina, dihadapkan dengan ibu itu.

“Marina, ibu ini bercerita bahwa anaknya di beberapa hari lalu kau gigit jari manisnya sampai putus, apa benar?”

Marina terdiam disudutkan dengan cara demikian. Setelah beberapa saat tercenung, barulah Marina mau menjawab, “Bukan saya yang melakukannya. Ada hantu-hantu yang berkeliaran dan hidup dalam telapak tanganku. Jika saya meniupnya sebanyak tiga kali, maka keluarlah mereka dan akan menyerang siapa pun yang menurut makhluk-makhluk itu teramat mengancam.”

Kepala sekolah dan si ibu yang mengadu itu sama-sama mengernyit kening tanda tak mengerti.

***

Sejak orang-orang satu sekolah tahu selenting kabar Marina yang memiliki peliharaan hantu-hantu, tak ada satu orang pun yang ingin bicara dengannya. Mereka takut tertimpa celaka bila berurusan dengan Marina, anak itu terlalu berbahaya untuk dijadikan karib. Suatu malam, sepulang dari bimbingan belajar di rumah seorang guru, Marina bertanya pada ibunya tentang hantu-hantu yang bermukim di telapak tangannya sejak ia masih berusia satu bulan. Mulanya Marina memang tidak percaya jika hantu-hantu itu benar adanya, tetapi setelah ia melihat sendiri dua sosok renta dengan wajah dan tubuh hancur barulah ia percaya, dan Marina senang dengan hantu-hantu yang dimilikinya.

***

“Kenapa hantu-hantu itu ada, Bu?” tanya Marina di sebuah senja.

“Hantu diciptakan untuk menggoda manusia, Nak. Tugas mereka adalah menghancurkan kadar keimanan setiap umat,” ujar ibu menjawabnya, tanpa sedikit pun menggurui Marina.

“Lalu, kenapa mereka senang berada di tanganku, padahal aku adalah seorang perempuan?”

Advertisements