Cerpen Latif Fianto (Padang Ekspres, 02 September 2018)

Api Kenangan ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Api Kenangan ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Ketika Anjani bertanya kepadaku apakah aku tidak mencintai wanita lain, aku dengan sangat jujur menggeleng dan seperti laki-laki romantis lain berkata kepadanya bahwa hanya ia satu-satunya perempuan yang aku cintai dan akan aku nikahi. Aku membelai rambutnya yang panjang dan wangi, tapi ia segera memeluk dan berbisik sangat pelan bahwa hubungan kami tidak mungkin berlanjut. Ia memelukku sangat erat tanpa terisak.

Itu malam minggu kami yang paling tidak manis. Padahal aku sudah membayangkan Anjani akan memberikan sebuah kejutan seperti malam minggu-malam minggu sebelumnya. Apalagi sudah dua minggu Anjani pergi berlibur ke kampung halamannya yang setiap kali aku telepon selalu bilang susah jaringan, sibuk membantu Mamak—sebutan untuk ibunya—memasak di dapur, membersihkan ini dan itu, sehingga Anjani bahkan tidak sempat menyentuh ponsel.

Aku tidak heran karena aku tahu sendiri rumah Anjani. Berada tidak jauh dari hutan jati yang menjadi pembatas dua kabupaten. Anjani memiliki saudara perempuan tidak sekandung karena keduanya anak angkat yang sudah diadopsi sejak masih bayi. Setiap pulang berlibur Anjani menjadi satu-satunya perempuan yang sangat sibuk. Saudara perempuannya, yang memiliki seorang anak tapi sudah menjanda sejak ditinggal pergi suaminya tanpa proses perceraian, hanya mendekam di dalam kamar sambil mengobrol dengan beberapa laki-laki melalui ponsel.

Baca juga: Togel – Cerpen Adam Yudhistira (Padang Ekspres, 19 Agustus 2018)

Aku tahu karena aku pernah menginap di rumah Anjani selama seminggu. Waktu itu masih tahun pertama hubungan kami. Aku heran kenapa Anjani begitu mudah mengajakku, yang hanya seorang pacar, ke rumahnya. Apakah kedatanganku tidak akan menjadi omongan tetangga?

Di desaku tak ada tradisi perempuan mengajak seorang laki-laki yang bukan muhrim bermain ke rumah. Apalagi menginap. Kalau itu terjadi omongan orang-orang akan meluas jadi sedesa bahkan bisa melompat ke desa-desa tetangga. Beruntung kalau warga tak menggerebek si laki-laki dan menyuruh menikahi si perempuan saat itu juga.

Kondisi di rumah Anjani berbeda. Orangtua Anjani menyambutku dengan baik. Saudara perempuannya yang bertubuh gempal keluar dari dalam kamar sambil menempelkan ponsel ke telinga lalu masuk lagi sambil tertawa cekikikan. Seorang anak kecil kira-kira berusia tiga tahun tidur di depan televisi. Aku disilakan menaruh tas dan tidur di dalam kamar Anjani yang kecil dengan kasur yang tidak terlalu empuk. Dua malam kemudian saudara perempuan Anjani kedatangan tamu seorang laki-laki yang setelah berbincang-bincang di ruang tamu mereka masuk ke dalam kamar dan laki-laki itu baru pulang esok pagi sebelum matahari terbit. Laki-laki itu bukan suami saudara perempuan Anjani. Aku tahu karena Anjani pernah menunjukkan foto suami saudara perempuannya, yang setelah beberapa bulan menghilang, diketahui ternyata sudah menikah dengan perempuan lain.

Advertisements