Cerpen Iksaka Banu (Koran Tempo, 01-02 September 2018)

Variola ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Variola ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Mengapa Tuhan menciptakan wabah penyakit? Apakah Ia jemu melihat kedamaian dan ketenteraman umat-Nya? Mengapa Tuhan gemar membuat ironi? Lihatlah Hindia Timur, untaian zamrud molek ini. Kepulauan luas dengan siraman matahari sepanjang tahun, hasil bumi melimpah, serta penduduk yang rajin melempar senyum. Bandingkan dengan Eropa: dingin, miskin, tak bermoral. Tidak seharusnya Tuhan menurunkan kutukan atau wabah penyakit di sini.

Bukan. Bukan wabah kolera atau pes, meski keduanya juga sempat membantai sepertiga populasi manusia di dunia. Aku bicara tentang cacar. Variola. Gelembung kecil bernanah di sekujur tubuh disertai demam tinggi, yang mengantar penderitanya ke gerbang kematian. Wabah yang sejak sepuluh ribu tahun lalu telah memangsa jutaan jiwa, dan sejak abad ke-14 menjangkiti Hindia. Mulai dari Ternate, Ambon, dan kini Bali. Ya, delapan belas ribu orang kehilangan jiwa di Bali karena wabah cacar menjelang akhir 1871 ini.

“Kita bersyukur, penangkal penyakit ini berhasil ditemukan sekitar 75 tahun silam,” kata Dr. Jan Veldhart, wakil kepala Geneeskundige Dienst di Weltevreden. Siang itu aku datang memenuhi undangan yang ia beri catatan ‘segera dan darurat’.

“Pengiriman vaksin cacar dari Belanda ke Hindia juga semakin cepat dengan dibukanya Terusan Suez dua tahun lalu,” sambung Dr. Jan Veldhart. “Tetapi tidak cukup cepat menghadang laju penyebaran wabah di Bali. Sekali menyentuh Batavia, lumpuhlah semua kegiatan ekonomi.”

“Kabar terakhir, karantina sudah diberlakukan. Militer telah memblokir jalan dari dan ke daerah epidemi,” sahutku.

“Angkat topi untuk kegesitan pejabat setempat.” Dengan tangan kanan, Dr. Jan Veldhart memperagakan kalimat yang ia ucapkan. “Sekarang giliran kita mengambil tindakan. Ini perintah langsung dari Gubernur Jenderal.”

“Sejujurnya, kita perlu mendirikan lebih banyak lagi lembaga yang bisa memproduksi vaksin cacar di Hindia.” Aku menarik kursi, duduk di hadapannya.

Baca juga: Teh dan Pengkhianat – Cerpen Iksaka Banu (Koran Tempo, 07-08 April 2018)

“Tuan Adriaan Geest, sejak 1854, vaksin cacar telah diproduksi di Madiun, Pasuruan, Kedu, serta Kediri,” kata Dr. Jan Veldhart. “Namun daerah yang terkena wabah berada di pedalaman. Tak bisa mengandalkan vaksin dengan benang celup dijepit kaca berlapis damar untuk menyelamatkan mereka yang belum terinfeksi. Ada risiko kedaluwarsa. Kita terpaksa memakai cara kuno. Menggunakan tubuh anak-anak sebagai pembawa vaksin aktif. Sepuluh anak kecil berusia sembilan hingga lima belas tahun.”

“Sulit membujuk orang tua bumiputra dari keluarga baik-baik melepas anak mereka pergi seorang diri ke luar Jawa.” Aku menggeleng. “Kita wajib menanggung biaya anggota keluarga yang ikut menemani anak-anak itu. Bila satu anak dan satu orang tua masing-masing mendapat upah f50, akan diperlukan f1.000 untuk sepuluh peserta. Belum termasuk ongkos kapal dan makan. Kecuali kita mau menggunakan anak-anak gelandangan.”

“Tak mungkin.” Dr. Jan Veldhart menggosok lensa kacamatanya. “Kita tidak bisa menjamin darah mereka bersih dari bibit penyakit lain. Tentu kita bisa memeriksa mereka satu per satu. Tetapi butuh waktu lama. Padahal kita harus bergerak cepat. Kapal yang berangkat ke Bali tidak banyak.”

“Bergerak cepat. Seberapa cepat?”

Advertisements