Cerpen Ana Nurhasanah (Haluan, 01-02 September 2018)

Semaun dan Kalung Kafan di Lehernya ilustrasi Istimewa
Semaun dan Kalung Kafan di Lehernya ilustrasi Istimewa 

Derau angin berbeda malam itu. Di atas kasur kapuk berdebu, Rentenir Semaun berdendang dengan batuk berdarah. Bukan satu kebetulan kalau ia sendirian di rumah. Sejak mengusir anak dan istrinya sepuluh tahun lalu sebab hal remeh-temeh, hiduplah ia sebatang kara meskipun bergelimang harta. Anehnya, ia tak menyesal sama sekali—setidaknya hingga malam itu tiba, malam saat nyawa harus talak tiga dari badannnya.

Angin menyelinap lewat lubang jendela kamarnya, Semaun—tuan rumah kesepian itu tak kuasa menghalaunya. Malaikat penghentak sukma menunggangi angin dengan gagah sambil menghunus sebilah pedang, menuju Semaun yang telah biak oleh darah batuknya. Dengan sembilan puluh sembilan kali ciuman pedang tepat di dada, Semaun tiada.

Satu setengah hari berlalu sejak malam itu. Masih tak seorang pun tahu kalau Semaun telah almarhum. Yang orang-orang tahu, tuan piutang bermulut tajam itu sudah sehari setengah tak ilir mudik keluar masuk kampung sambil membawa buku catatan piutang kebanggaannya.

“Lama sekali orang datang. Aku sudah tak tahan. Panas,” keluh Semaun bicara sendiri. Suaranya gaib tanpa huruf dan bunyi.

Seekor lalat hijau terbang rendah mengelilingi jasad Semaun. Melihat darah telah mengeras di atas kasur, lalat menahan tawa. Atas gelagat lalat itu, Semaun naik pitam merasa dihina.

“Kau, lalat busuk! Pergi sana! Jangan hinggapi tubuhku.”

“Oi, rentenir edan! Kasihan sekali, nasib sulit melilit kulitmu yang kisut-kusit dan bakal hancur sekali cubit. Untuk ke neraka pun berbelit-belit,” hina lalat. “Mana sudi aku hinggap, bangkaimu terlalu anyir bagi lalat busuk macam diriku. Nikmati saja deritamu. Suit, suittt,” siul cemooh Lalat seraya minggat.

Baca juga: Bagaimana Bandit Mulai Mencintai Lemari Pakaian Itu dan Kisah-Kisah Cinta Mengerikan Lainnya – Cerpen Ajeng Maharani (Haluan, 22 Juli 2018)

Busuk bangkai mulai tercium oleh Rinto—orang pertama yang mengetahui kematian itu—saat lewat di halaman rumah Semaun.Saat bau bangkai makin menyeruak, Rinto mulai menebak-nebak, dalam hatinya ada rasa rusuh, tapi terbersit doa semoga. Apakah? Mungkinkan? Iyakah? Dan Wah! Pasti Semaun telah sudah.

Langkah Rinto injit-injit menghampiri rumah Semaun, lalu mengintip lewat lubang jendela tempat angin kematian masuk satu setengah hari sebelumnya. Bau bangkai makin pekat memeluk hidungnya. Saat itulah Rinto mengunci semua duga, adalah benar bahwa Semaun si rentenir, hidupnya telah berakhir.

***

“Bagaimana baiknya, Engku Jorong [1]?” tanya seorang warga.

“Kita selenggarakan saja jenazah ini secepatnya,” kata Jorong.

“Kabar baik diimbaukan, kabar buruk dihamburkan. Hendak berkabar, ke mana kita akan berkabar? Sudah sepuluh tahun Semaun tinggal sendiri di rumah ini. Kita tak tahu keberadaan sanak keluarga dan handai taulannya,” imbuh Engku Jorong penuh wibawa. Semua setuju.

Advertisements