Cerpen Herumawan PA (Minggu Pagi No. 22 Th 71 Minggu V Agustus 2018)

Pulsa ilustrasi Minggu Pagi.jpg
Pulsa ilustrasi Minggu Pagi 

PONSEL Adit tiba-tiba bergetar. Ada kiriman WA dari Rano, kawan SMA yang terakhir kali ketemu di media sosial. “Dit, kamu bisa datang kan ke reunian seminggu lagi?”

Adit jawab WA Rano, “Pulsaku sebentar lagi habis.”

Tidak perlu menunggu lama, balasan WA Rano sudah tiba.

“Aku belikan ya.”

Adit tertegun membacanya. Betapa baiknya dia. Balasan segera Adit tulis. “Memangnya berapa kamu mau belikan?”

Sedetik kemudian, balasan WA dari Rano tiba.

“Dua puluh lima ribu ya, kan cukup buat WA-nan.”

Adit menghela napas sebentar. Lalu kembali membalas WA Rano. “Boleh juga.”

Setengah jam kemudian, datang balasan Rano.

“Pulsanya dua puluh lima ribu kata penjualnya habis, mau beli pulsa lima puluh ribu tapi duitnya gak cukup.”

Adit kembali tertegun membaca balasan Rano. Kali ini Adit tak langsung membalas, biar Rano anggap pulsanya habis. Ponsel Adit diletakkan di atas meja belajar, bersanding dengan mangkuk bekas mie dan segelas teh manis yang tinggal setengah.

Baca juga: Toa -Cerpen Herumawan PA (Kedaulatan Rakyat, 02 September 2018) 

Adit mengintip dari balik korden jendela dekat tempatnya duduk, hujan yang tadinya rintik-rintik kini berubah deras di luar rumah. Tampaknya pawang hujan sangat diperlukan untuk bisa mengusir hujan pergi jauh. Agar Ade, sang kakak cepat pulang. Tak membuatnya seperti orang kesepian di rumah.

Ponsel Adit kali ini berdering. Sebuah telepon masuk, dari Rara pacarnya. Segera diangkat teleponnya. Tanpa basa-basi pertanyaan langsung meluncur dari mulut Rara.

“Kok semingguan ini nggak pernah telepon aku?”

Pertanyaan tak bisa langsung dijawab. Adit terdiam cukup lama.

“Kamu sudah nggak sayang lagi ya sama aku?” Rara mempertegas pertanyaannya.

“Bukannya aku ngak sayang sama kamu, cuma pulsaku masa aktifnya nggak lama lagi habis.”

“Bohong,” kata Rara kesal di ujung telepon.

“Tapi masa aktif cintaku padamu nggak akan habis selamanya, Sayang.”

Advertisements