Cerpen Ken Hanggara (Minggu Pagi No. 22 Th 71 Minggu V Agustus 2018)

Kencan Terakhir ilustrasi Minggu Pagi.jpg
Kencan Terakhir ilustrasi Minggu Pagi 

PADA hari terakhir itu kami sepakat untuk kencan sehari penuh. Dimulai dari dini hari hingga malam hari, kami memikirkan tempat mana saja yang dituju. Aku tahu ini aneh, tetapi Maria tak mempersoalkan apa pun.

Barangkali saja kami bakal bosan dan berharap hari itu berakhir lebih cepat. Atau bisa saja malah ketagihan, sehingga esoknya kami harap kami tidak pernah putus seperti ini.

Namun,  Maria menetapkan hari ini benar-benar hari yang terakhir. Kami tidak bisa lagi bersama, karena perjodohan yang dirancang keluarganya dirasa lebih baik daripada terus bersamaku. Aku memang terlalu banyak janji pada Maria, tapi tidak juga kupenuhi janji tentang aku yang akan menikahinya suatu hari nanti itu. Maria lama-lama bosan, dan akhirnya cintanya padaku luntur. Aku dianggap tidak berkomitmen, dan ia sangat kecewa.

Maka, di kencan terakhir kami, kubawa segala benda pemberiannya, dan kubilang pada Maria supaya dia menyimpannya, atau membuang saja semua benda itu daripada menjamur di apartemenku.

“Kamu tidak ingin kenang-kenangan?” tanyanya kesal.

“Aku ingin saja menyimpan segala hal tentangmu tetapi kamu sudah pasti bukan lagi milikku mulai besok dan seterusnya, dan kurasa tidak akan ada manfaatnya barang-barang pemberianmu itu. Kamu boleh membuang barang-barang pemberianku kok, dan itu tidak membuatku tersinggung,” jawabku dengan berusaha untuk tidak terbawa emosi. Padahal mataku terasa panas.

Baca juga: Mayat Masa Lalu – Cerpen Ken Hanggara (Kompas, 05 Agustus 2018) 

Syukurlah Maria tidak mengungkit tentang itu lagi dan mobil kami pun membawa kami keluar batas kota, meninggalkan segala halangan yang membuat kami terpisah. Di suatu pom bensin, yang tidak terlalu jauh dari perbatasan kota, kami berhenti dan Maria berkata, “Kita sarapan dulu. Kamu belum makan sejak kemarin, kan?”

Aku mengangguk pendek, dan memang benar inilah yang biasa dia lakukan di saat kami belum berpikir untuk berpisah; mengingatkanku untuk sarapan dan segala macam.

Pada saat itu jam sudah hampir menunjuk pukul enam, tetapi tubuhku terasa sangat lelah, dan kuputuskan untuk menuruti saja permintaan-permintaan Maria seperti sarapan di suatu tempat atau bahkan mampir untuk sekadar mandi di suatu hotel. Tetapi, kurasa itu tidak mungkin. Kami bukannya bepergian lebih dari sehari, jadi tidak ada acara pergi ke hotel dan kurasa kami hanya mungkin mandi jika mampir ke rumah seseorang yang kami kenal.

“Kita tidak kenal siapa pun di kota yang bakal kita tuju,” kataku setelah beberapa saat.

Advertisements