Cerpen Suroso (Suara Merdeka, 26 Agustus 2018)

Tanah Pancuran ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdeka
Tanah Pancuran ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka 

Kamis malam menjadi malam penuh duka. Malam yang dirundung kepiluan bagi beberapa orang. Malam itu sering disebut malam yang menakutkan karena banyak makhluk mistis keluar. Ya, malam Jumat kali ini menjadi kenangan pahit bagi Kampung Banyuurip.

“Katanya Kang Amir meninggal, Pak?” tanya Chamid pada kawan meronda.

“Lo? Bukan Zainal yang meninggal?” Solikin yang kebingungan balik bertanya.

“Tadi di kampung sebelah itu kabarnya banyak yang meninggal. Tujuh orang, Pak,” tukas Imam.

“Tujuh orang gimana, Pak? Sekarang sudah sepuluh orang,” tegas Ucup yang baru datang dan langsung mengambil bagian untuk bicara.

“Kok malah seram, Pak? Ini malam Jumat,” sergah Solikin yang sejak tadi terlihat ketakutan.

***

Beberapa waktu lalu, kampung itu masih disebut kampung penuh kedamaian. Banyak orang menyebut itulah kampung yang selalu hidup. Oleh karena itulah, orang sering menyebutnya urip yang berarti hidup.

Tidak ada kebencian di kampung itu. Hanya ada senyum dan keramahtamahan yang begitu indah.

Orang desa seberang sering mengatakan, “Jika kamu ingin mendapatkan kedamaian, datanglah ke Banyuurip.”

Meskipun tidak tahu artinya, beberapa orang seberang telah membuktikan. Mereka pun mendapatkan sesuai dengan keinginan. Kedamaian itulah yang mungkin tidak bisa mereka rasakan di kampung sendiri.

Baca juga: Amplop Kematian – Cerpen Suroso (Kedaulatan Rakyat, 16 April 2018)

Hari ini, Kampung Banyurip tidak lagi disebut kampung damai. Duka tak hanya menimpa hanya keluarga, tetapi sepuluh keluarga. Dan, mereka tak tahu penyebabnya.

Tangisan kini membanjiri desa itu. Beberapa anak menangis histeris; menandakan mereka belum bisa menerima musibah yang menimpa keluarga.

Warga sibuk menghadapi bencana kematian yang menimpa kampung mereka. Bapak-bapak sudah mempersiapkan diri berkumpul di balai desa bersama Pak Lurah. Mereka mengatur siapa mengaji di tempat ini dan siapa lain. Bukankah tidak mungkin semua mengaji di tempat yang sama?

Advertisements