Cerpen Ali Satri Efendi (Radar Banyuwangi, 26 Agustus 2018)

Musim Panen dan Hewan Kurban ilustrasi Radar Banyuwangi.jpg
Musim Panen dan Hewan Kurban ilustrasi Radar Banyuwangi 

“Kalau padinya kayak gini, dua ratus ribu, Pak, sekuintalnya,” ujar Muis, tengkulak langganan Syarif yang biasa membeli padi-padinya setiap musim panen. Ia terhenyak mendengar angka yang disebutkan.

“Apa tidak bisa ditambahkan? Tiga ratus ribu misalnya?” harap Syarif.

“Wah, tidak bisa, Pak. Padinya basah. Mungkin dalam satu kuintal pun banyak gabah yang kosong,” timpal Muis. “Saya juga kan pedagang. Orang kota bakal susah nih sama padi kayak gini.”

Syarif terdiam. Memandang berkarung-karung padinya yang sudah telanjur dibawa ke gudang tersebut. Hasil panen tahun ini memang yang terburuk dari beberapa tahun terakhir. Musim yang tak menentu dengan hujan hampir sepanjang tahun. Ia juga mengerti jika susah untuk menjualnya. Dan padi-padi tersebut pun tidak mungkin ia bawa kembali. Akhirnya ia relakan hanya menerima dua ratus ribu rupiah per kuintal. Padahal jika musim tengah baik, padinya per kuintal bisa lima ratus hingga enam ratus ribu rupiah.

Ia tinggalkan gudang tersebut dengan bergumpal-gumpal pikiran. Uang kuliah anak pertamanya, uang sekolah anak kedua dan ketiganya, keperluan-keperluan rumah tangga selama berbulan-bulan ke depan, kondangan ke beberapa kenalan, dan lain sebagainya. Serta satu hal yang semakin memberatkan pikirannya mengingat kurang dari sebulan lagi adalah hari raya Idul Adha: hewan kurban. Dan ia tidak pernah absen membelinya beberapa tahun terakhir.

***

“Berapa harga kambing sekarang?” Tanya Syarif pada Iman, tetangganya.

“Ya… sekitar dua sampai tiga jutaan, Rif,” jawab Iman sedikit ragu. “Kamu mau kurban lagi? Nanti saya carikan sekalian saya cari kerbau buat Pak Haji Arifin,” tawarnya.

Baca juga: Huruf – Cerpen Midadwathief (Radar Banyuwangi, 01 Juli 2018)

Syarif tersenyum getir. Terpikir uang hasil panennya telah ia perhitungkan untuk keperluan dasar rumah tangganya. “Nanti ya. Beberapa kuintal padi saya belum dibayar sama tengkulak,” ia berbohong menutupi kekhawatirannya.

“Kamu, Rif, masih beruntung bisa menjual hasil panenmu. Lihat si Indra, kasihan dia. Padi-padinya sama sekali tidak bisa dijual,” Iman menyalakan rokoknya. Menghembus asapnya bersama beban di kepala. “Si Taufan juga. Banyak lah di kampung ini yang gak bisa jual padinya. Mereka pada bingung harus cari pinjaman ke mana buat keperluan sehari-hari dan buat beli bibit padi untuk musim tandur ke depan.”

Advertisements