Cerpen Dadang Ari Murtono (Jawa Pos, 26 Agustus 2018)

Malam Ini Sunyi Sekali ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Malam Ini Sunyi Sekali ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

AZAN Maghrib sudah lama lewat. Di dalam bus itu, sunyi terasa menekan mendesak. Gedung, pepohonan, dan lampu jalan berlari cepat di luar jendela, meninggalkan perasaan ngelangut di kedalaman dadanya. Ia memejamkan mata. Pada terminal ketiga atau keempat, harapnya, ponselnya akan berbunyi. Dan ia, dengan tangan gemetar dan dada berdebar, bakal mengangkatnya setelah dering kelima.

“Halo….”

“Halo… kau di mana?” seru suara di seberang. Suara yang penuh kecemasan. Ia akan tersenyum. Namun, demi martabat seorang perempuan yang berada pada posisi benar dalam sebuah perselisihan, ia akan meredam kecamuk kegembiraan dalam dadanya. Ia akan menahan teriakan. Ia akan mengikis kikik tawa yang rawan merucut ke speaker ponsel.

“Bukan urusanmu,” ia bayangkan menjawab, dengan nada yang dipaksakan ketus.

“Jangan begitu. Kembalilah,” suara di seberang memohon. Ia membayangkan mimik muka dan gestur pemilik suara itu; sebutir keringat meluncur dari kening lebar melintasi hidung mancung, kumis yang jarang dan bergerak lucu seiring gerak bibir yang bergetar, mata yang berkaca-kaca, satu tangan yang bebas dari kewajiban memegang ponsel akan terus-terusan menyisir rambut ke belakang dan perjalanan mondar-mandir di ruang tamu berukuran tiga kali tiga meter dalam rumah kontrakan mereka di kawasan Medaeng—kebiasaan-kebiasaan untuk mengatasi kecemasan khas lelaki itu.

Ia pernah mencintainya. Dan ia masih mencintainya. Sebelas tahun mereka hidup bersama, melewati desir hari lari. Mereka pernah mereguk berahi yang membara, saling memuaskan satu sama lain dalam malam-malam dingin, dalam malam-malam gerah, dalam malam-malam di bawah guyuran cahaya neon, dalam malam-malam ketika listrik mati, dalam pagi-pagi buta, dalam remang cahaya fajar sebelum gosok gigi, dalam siang-siang terik ketika keringat membanjiri jasmani, dalam sore-sore penuh kecapekan setelah dikerjai kerja.

Baca juga: Pencarian Bakat – Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 08 Juli 2018)

Mereka pernah saling memeluk dengan lambung melilit pada masa-masa di mana pemasukan seret yang tak bisa ditebak. Sesekali, mereka tidur saling memunggungi ketika terlibat pertikaian sederhana untuk hal-hal kecil, semisal kenapa jemuran abai diangkat sewaktu gerimis turun. Atau melewati jam-jam dengan saling membisu. Duduk berjauhan di ruang makan—yang karena ruang itu tidak terlalu luas, maka jarak mereka sesungguhnya tidak akan bisa terlalu jauh meski masing-masing sudah merapat di dinding yang berseberangan. Memasang muka masam dan menghapus senyum. Namun, mereka selalu saling kembali menghadapkan muka, mengucapkan kalimat-kalimat lembut, saling merapat, saling memagut, saling menenangkan.

Jauh sebelumnya, mereka juga pernah tenggelam dalam lembah nista. Lembah kelam. Sewaktu mereka masih muda dan merasa bahwa mereka akan selamanya muda. Mereka akan menenggak arak murah di warung tepi rel, mereka mengisap ganja di kamar sempit kos-kosan kawasan Wonokromo. Sesekali, mereka pergi ke bar mahal, menghabiskan isi dompet demi martini atau wiski, sebelum kemudian, dalam keadaan teler berat, berpelukan dan memuaskan geriap nafsu tanpa ikatan pernikahan.

Advertisements