Cerpen Anas S Malo (Media Indonesia, 26 Agustus 2018)

Kambing yang Jatuh dari Langit ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Kambing yang Jatuh dari Langit ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

GEMA takbir tahun lalu masih tersisa dalam benakku. Ya, mengapa waktu cepat sekali berputar? Aku takut, jika maut lebih dulu melaksanakan tugasnya, mencabut nyawa Mak sebelum ia bisa berkurban.

Hampir seminggu menjelang Hari Raya Kurban, Mak terbaring di ranjang. Tubuhnya kurus kering, sesekali batuk membuat bergetar seluruh tubuhnya. Tangannya menahan dadanya sendiri tampak amat sakit. Dari mulutnya, mengeluarkan darah. Aku bergegas mendekat, membawa botol kapsul yang masih beberapa biji dan air minum. Aku memijat pundaknya.

“Minum dulu obatnya Mak,” ucapku. Aku menyongsong Mak, kemudian memberikan segelas air putih dan kapsul berwarna merah dan putih. Ia menelan obat itu. Mak merasa lega sejenak. Ia melempar senyum kepadaku. Mak menatap ke balik kelambu jendela. Dilihatnya pohon beringin di samping rumah. Tatapannya kosong. Aku bisa melihatnya. Wajahnya sayu. Sesekali batuk kecil. Ia bangkit dari ranjang, bersusah payah untuk berdiri dengan segenap tenaganya, berjalan gontai menuju jendela.

Mak kembali tersenyum. Senyumnya masam selalu meneduhkan, menggambarkan sebuah rasa syukur yang tak terhitung. Di sela-sela senyumnya, ia mengucapkan, Hamdalah beberapa kali. “Kenapa Mak senyum?” tanyaku.

Baca juga: Imajinasi-imajinasi Intim – Cerpen Anas S. Malo (Rakyat Sumbar, 10-11 Februari 2018) 

“Tidak ada apa-apa, Mak hanya bersyukur masih diperkenankan untuk hidup sampai pada hari menjelang Hari Raya Kurban. Mak juga bersyukur punya anak laki-laki sepertimu, sebab di luar sana, jarang anak masih sibuk merawat orangtuanya. Terima kasih, Nak.” Suara Mak lirih, kembali tersenyum lembut.

Hampir satu windu Mak diurapi dengan penyakit TBC. Penyakitnya tak kunjung hilang dari tumbuhnya. Idul Adha tahun lalu Mak sudah tidak bisa datang ke masjid. Tahun ini, jika melihat kondisi Mak yang semakin memperhatikan, kemungkinan besar ia tidak bisa kembali berjamaah Salat Id, mengumandangkan takbir di masjid. Hanya bisa melihat dari jendela usang para tetangga berangkat ke masjid, dan hanya bisa melihat dari kejauhan beberapa warga menuntun kambing untuk diserahkan ke panitia kurban. Kambing saling mengembik. Mak tidak bisa menyaksikan kemeriahan Hari Raya Kurban. Mak tidak bisa menyaksikan binatang itu disembelih.

Advertisements