Cerpen Meutia Swarna Maharani (Kompas, 26 Agustus 2018)

Baruna ilustrasi Gilang Muhammad Ajiswara - Kompas
Baruna ilustrasi Gilang Muhammad Ajiswara/Kompas 

Terlahir sebagai seorang buta tidaklah begitu buruk. Setidaknya bagiku. Aku masih bisa merasakan hangatnya sinar mentari di permukaan kulitku, juga masih mampu meminta tambah untuk setiap masakan Simbok. Aku tak terlalu menderita. Selama hidungku masih dapat menghirup udara seberapa pun yang kumau, aku masih terhitung bahagia.

Aku tak tahu sejak kapan aku buta. Mama dan Simbok tak pernah mau membahasnya. Kata mereka, tak penting membicarakan yang sudah-sudah, kecuali jika keadaan bisa diubah. Jadi aku menurut saja. Toh, aku tak pernah tahu bagaimana rasanya bisa melihat, jadi tidak terlalu berguna juga untuk sakit hati karena ini.

Mamaku, seorang perempuan tentunya. Ia yang melahirkanku, tetapi Simbok yang membesarkanku. Simbok merupakan anak dari kepala asisten rumah tangga di rumah Mama ketika masih kecil. Katanya, ketika Mama mengandungku, Simbok yang sudah tiga kali kawin-cerai dan tak punya anak pun jadi iba, lalu memutuskan untuk tak pernah menikah lagi dan membantu membesarkanku. Aku tak tahu mengapa Simbok iba pada Mama kala itu. Mungkinkah karena setiap janin membawa petaka, tanyaku padanya. Simbok tergelak sedikit, kemudian berkata bahwa aku adalah keberuntungannya. Sejak saat itu aku tahu, aku tak boleh lagi bertanya seperti itu.

Rutinitas di rumahku konstan sama setiap hari. Mama dan Simbok bangun pagi. Kemudian Mama berangkat ke kantornya dan Simbok membereskan rumah sebelum membangunkanku. Setelahnya aku bersiap dan menunggu di teras sampai guru privatku tiba. Mama mungkin bisa saja memasukkanku ke sekolah khusus, tapi nyatanya tidak.

Guruku seorang laki-laki. Pertama ia mengajariku membaca dengan huruf Braille di usiaku yang genap enam tahun, dilanjutkan dengan teori gravitasi Newton ketika umurku sepuluh tahun dan teori Comte tentang tiga tahap perkembangan intelektual ketika umurku lima belas. Sempat kukira ia pacar Mama, ayahku mungkin. Dan ia terdengar mendengus kesal sambil berkata, “Mamamu lebih tua dariku.”

Aku tak tahu apa yang salah jika mamaku lebih tua darinya. Kalaupun memang betul ia pacar Mama, aku tidak keberatan. Itu artinya mamaku akan punya teman dan tidak sendirian lagi.

Tapi, tidak. Aku bohong. Aku terbiasa dengan Mama yang bersikap seadanya cenderung dingin. Tak dapat kubayangkan jika suatu hari nanti Mama berubah hangat karena hal yang disebut cinta. Dan lagi, memangnya apa itu cinta?

“Kamu membenci ayahmu?” tanya guruku.

“Aku tidak membencinya, hanya tidak mencintainya.”

“Mengapa begitu?”

“Sama seperti melihat, aku tak pernah merasakan punya ayah. Aku tidak bisa membenci apa yang tak pernah kumiliki. Memangnya kenapa? Kau ayahku, atau kau mau jadi ayahku?”

Advertisements