Cerpen Jemmy Piran (Koran Tempo, 25-26 Agustus 2018)

Yang Bernyanyi pada Malam Dingin ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Yang Bernyanyi pada Malam Dingin ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Betapa menentramkan setiap mendengar lagu itu di malam dingin begini. Gema suaranya bagai derap yang datang dari kejauhan sebagai ajakan agar kaki ini segera terangkat, berjalan menyusuri kegelapan, hingga pada akhirnya tubuh yang telah terikat ini berdiri memaku di bibir pantai. Ya, karena ia akan muncul dari dalam laut sebagai sesosok perempuan cantik beraroma kerang. Ia berjalan begitu anggun, amat sangat anggun, dan rumbai gaunnya dipegang dengan mulut-mulut ikan yang berbaris di belakangnya.

Dengan senyum yang sama, dengan pandangan yang sama, dengan gaun yang sama, ia menghampiriku, menyerangku dengan pelukan-pelukan rindu, dengan ciuman-ciuman yang menyimpan hasrat, dan pada akhirnya ia akan bersandar di bahu ini dengan kepasrahan penuh, lalu kepedihannya akan tumpah sepanjang malam hingga fajar merekah. Ia akan berbagi kisah tentang kegelisahannya, seakan-akan ada nada mendesak dan menuntut agar aku bertanggung jawab. Dan, pada akhirnya, ia akan kembali ke laut, sebab, seperti katanya, terang bukanlah saat yang tepat untuk kami berdua, padahal telah puluhan kali coba kutaklukan dirinya dengan keyakinan-keyakinan bahwa aku tidak peduli pada pandangan dan gunjingan orang tentang dirinya.

Bagaimana menyatukan dua orang dari dua kutub yang berbeda? Itulah pertanyaan terbesarku tentang hubungan kami. Pertanyaan itu menyeretku cukup jauh, membawa langkah kakiku memasuki desa-desa terjauh, ke kota-kota yang masih menjaga hal-hal mistik, membuka ensiklopedia. Kiranya perjalanan yang kulakukan membawa titik terang atau setidaknya ada seorang cenayang, dukun, bomoh, okultis, tabib, mampu menolongku. Namun hasilnya nihil. Malahan mereka menganggap aku sebagai orang gila. Aku tidak peduli.

Baca juga: Kasus – Cerpen Yudhi Herwibowo (Koran Tempo, 23-24 Juni 2018)

Terkadang aku mengingatkan diri bahwa cerita-cerita yang pernah kudengar semasa kecil tentang leluhur yang menangkap roh-roh halus yang menampakkan diri dengan menancapkan paku di ubun-ubun kepala, ingin juga kulakukan setiap kami bersisian, duduk berdua di bibir pantai. Namun, kedua tanganku selalu gemetar ketika hendak menancapkan paku. Aku merasa ia dapat memandang bola mataku dengan jelas dan menangkap ketakutanku. Karena ketika jeda saat ia berhenti berbagi, aku seperti mendengar semacam bisikan. Aku tahu itu suaranyasuara yang membuat aku tak berdaya, yang membuat kekuatan yang telah kuhimpun luruh.

Ia selalu punya alasan manakala kusampaikan keinginanku agar kami bisa tinggal bersama. Jika memang warga tidak menghendaki dan mengucilkan keberadaan kami, setidaknya masih ada aku yang siap menemaninya. Namun, sekali lagi, ia menolak. Kali ini ia menyampaikan alasan lain yang mau tidak mau harus kuterima. Ia tidak mungkin meninggalkan laut yang telah jutaan tahun ia jaga. Bagaimana kehidupan dalam laut jika ia tidak berada di sana untuk mengatur kehidupan? Sekeriap ikan membutuhkan dirinya. Anak-anakbegitu katanya, untuk menyebut sekeriap ikan dan segala yang hiduptidak bisa ditinggal pergi begitu saja. Karena, jika ia tidak mengatur maka ekosistem dalam laut akan rusak. Setelah meyakinkan aku demikian, dipeluknya aku demikian erat bagai takut akan kehilangan diriku.

Advertisements