Cerpen Erwin Setia (Haluan, 25-26 Agustus 2018)

Ke Mana Perginya Kucing-kucing ilustrasi Istimewa.jpg
Ke Mana Perginya Kucing-kucing ilustrasi Istimewa  

Saya tidak tahu ke mana perginya kucing-kucing saya. Malam tadi empat ekor kucing jantan itu masih di kandang. Saya sendiri yang menaruhnya setelah membawa mereka pulang dari sudut-sudut perumahan. Saya masih muda. Ingatan saya masih tajam betul. Del Piero, Trezeguet, Di Baggio, dan Nedved saya taruh di kandang. Tak salah lagi. Demikian adanya. Andai kandang kayu selebar satu setengah meter itu bisa bicara saya yakin dia akan bersaksi bahwa kucing-kucing hitam itu telah saya masukkan ke dalamnya. Entahlah mengapa subuh ini tiba-tiba kandang menjadi kosong. Tak juga ada semacam jejak pencurian atau tanda bahwa kucing-kucing itu melarikan diri. Pintu kandang masih terkunci rapat seperti terakhir saya lihat tadi malam.

Saya harus bertanya pada ibu. Tapi, ia tidak ada di mana-mana. Kamar ibu, kamar mandi, dapur, dan ruang keluarga kosong. Biasanya pagi-pagi begini ibu menonton pengajian di televisi. Sandal maupun sepatu hak milik ibu juga masih teronggok di rak. Artinya ibu memang tidak ke mana-mana. Tidak mungkin pula ibu berjalan-jalan pagi dengan kaki telanjang. Ibu tidak sedang hamil atau punya riwayat penyakit tertentu. Ibu juga pernah bilang trauma jalan tanpa alas kaki. Sebabnya ia pernah tertusuk paku sewaktu ospek dulu. Sejak itu ia benci nyeker dan penatar ospek. Namun itu tidak penting. Lalu dimana ibu?

Ayah, ya saya terpaksa harus bertanya kepada ayah. Padahal saya malas sekali berbincang dengan dia. Pertama, karena ayah sudah tak bisa melihat. Kedua, ketika penglihatannya masih normal dia juga sering menghiraukan kata-kata saya dan selalu menyuruh saya bicara pada ibu. Ini saya lakukan semata-mata lantaran terpaksa. Tak ada lagi jalan lain. Di rumah hanya ada saya, ibu, ayah, dan kucing-kucing.

Baca juga: Darah Daging – Cerpen Kartika Catur Pelita (Haluan, 05 Agustus 2018)

Saya mengetuk pintu kamar ayah dan minta izin masuk. Saya ketuk tiga kali sesuai aturan yang berlaku. Tiap-tiap ketukan berjarak kurang lebih dua puluh detik. Namun selama semenit itu tak ada sahutan dari dalam. Saya coba tempelkan telinga kanan ke pintu untuk meraba-raba suara dari dalam. Tetap hening. Saya berpikir untuk memutar kenop pintu dan membukanya sendiri. Ayah pernah melarang membuka pintu kamarnya kecuali seizin dia. Namun karena terpaksa saya terabas larangan itu. Maafkan saya ayah.

Kosong. Ayah tidak ada di kamar. Hanya selimut yang terlipat rapi, bantal-bantal tersusun, laptop dan sebuah buku tebal di atas meja baca. Tidak ada ayah. Ini juga di luar kebiasaan. Ayah tak pernah keluar kamar sebelum jam delapan pagi. Kecuali mungkin untuk buang air. Tapi di kamar mandi tak ada siapa-siapa. Soal mengapa ayah tak pernah keluar dari kamar sebelum jam delapan saya pernah tanyakan pada ibu. Namun ia menyuruh saya bertanya langsung pada ayah. Saat saya bertanya kepada ayah dia diam saja seperti biasanya dia mengacuhkan kata-kata saya. Lagi pula itu tidak penting. Lalu dimana ayah?

Advertisements