Cerpen Nazil Muhsinin (Kedaulatan Rakyat, 19 Agustus 2018)

Tirakatan ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Tirakatan ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

“SELAMA masih ada rakyat miskin di negeri ini, awak ini tidak akan makan siang, tidak makan malam, tidak ngemil atau sekadar minum,” kata kakek, suatu ketika.

Aku juga pernah bertanya kepada ibu mengapa kakek menyiksa diri dalam kehausan dan kelaparan terus menerus?

“Itulah yang disebut tirakatan. Beda dengan puasa sebagaimana yang diperintahkan agama. Tirakatan itu bentuk protes terhadap keadaan buruk yang tidak diinginkannya. Selama keadaan buruk itu belum berubah menjadi baik seperti yang diinginkan, tirakatan tidak akan berhenti.”

Aku tidak bertanya lagi tentang arti tirakatan, khawatir kalau ibu membentakku agar segera membuka kamus atau bertanya kepada mbah google. Maka segera aku membuka kamus dan langsung menemukannya.

Lalu aku bertanya lagi kepada ibu, mengapa kakek rela tirakatan untuk memprotes keadaan buruk yang tidak diinginkannya, yakni di negeri yang sudah merdeka ini masih ada rakyat miskin. Jawaban ibu membuat mataku terbelalak.

Baca juga: Kepada Rakyat Miskin – Cerpen Nazil Muhsinin (Kedaulatan Rakyat, 04 September 2017)

“Kakek dulu ikut berjuang memerdekakan bangsa dan negara ini dengan berperang melawan penjajah. Dalam peperangan itu, Kakek membunuh sejumlah serdadu kompeni dan setelah itu bersumpah, kalau setelah merdeka ternyata masih ada rakyat miskin di negeri ini, dirinya akan tirakatan sampai tidak ada lagi rakyat miskin di negeri ini.”

Kakek betul-betul melaksanakan sumpahnya. Ibu pernah memprotes bahwa sumpah kakek itu tidak masuk akal, karena di negara mana pun selalu ada rakyat miskin. Tapi protes ibu tidak membuat kakek berhenti tirakatan.

Advertisements