Cerpen Marliana Kuswanti (Media Indonesia, 19 Agustus 2018)

Sepotong Roti Hijau ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia.jpg
Sepotong Roti Hijau ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia

DARSUNI menyaksikan pemandangan itu tanpa sempat merasa pedih. Hatinya telah serupa pisau yang tebal oleh karat. Tumpul di mana-mana. Tak ada yang Darsuni rasakan. Perasaannya datar saja seperti permukaan meja. Sementara sepotong roti itu terus bergulir dari satu telapak ke telapak yang lain.

Semua sama mungilnya, telapak-telapak itu. Masing-masing satu gigitan, lalu sepotong roti di kejauhan itu berpindah ke tangan yang berikutnya. Terus begitu sampai nanti roti ludes. Yang mendapat potongan terakhir tentu merasa begitu mujur. Sedang yang di sebelahnya hanya akan memandanginya mengunyah dan menelan potongan terakhir itu sambil menelan liur.

Pemandangan yang lumrah. Entah di luar sana. Tetapi di dunia Darsuni, yang demikian telah terjadi sejak dahulu kala. Bahkan sepertinya sebelum ia mengada. Jadi, batin Darsuni dan orang-orang yang seperti Darsuni, jangan lebay ah. Biasa saja. Sayang jika kau harus ternganga, terperanjat, apalagi sampai berkaca-kaca dan menurunkan hujan oleh pemandangan yang telah sekarib itu.

Baca juga: Zikir Sunyi Perempuan yang Merindukan Kakbah – Cerpen Yaya Marjan (Media Indonesia, 12 Agustsu 2018)

Tak ada panggung untuk mementaskan drama di sini. Yang ada hanya kejujuran-kejujuran, potret hidup yang senyatanya. Darsuni melanjutkan pekerjaannya membersihkan gelas-gelas bekas air mineral. Matanya terpaku antara bibir gelas, pisau silet, dan jari-jarinya yang kapalan. Sayup-sayup, suara cekikikan bocah-bocah itu masuk ke telinga kanannya dan keluar dari telinga kirinya, menerbangkan serpihan-serpihan ingatannya ke seantero udara kota yang pengap, tak seperti layaknya ruang terbuka.

***

Darsuni ingat, malam itu, saat adik bungsunya masih ada di dalam perut ibunya yang sangat besar, ayahnya tiba tanpa sempat mengetuk pintu barang sekali. Lelaki itu bahkan langsung mendorong pintu, yang untungnya tengah tak terselot. Kalau terselo, bukan Darsuni mengkhawatirkan suara kerasnya akan mengejutkan adik bungsunya, melainkan khawatir dorongan yang kuat seketika melepaskan engsel-engselnya.

Itu pintu yang sangat tua. Ringkih oleh usia, lebih-lebih hanya terbuat dari beberapa lembar papan bekas yang disatukan. Bagian bawahnya telah bergerigi digerogoti tikus-tikus got yang sebesar lengan. Sebentar lagi, jika tak segera ditambal, tikus-tikus itu tentu dapat leluasa keluar masuk melewatinya.

Advertisements