Cerpen Sam Edy Yuswanto (Analisa, 19 Agustus 2018)

Selfie ilustrasi Toni Burhan - Analisa.jpg
Selfie ilustrasi Toni Burhan/Analisa 

GADIS kelas dua SMA itu bernama Nur Selfiyaningsih. Dulu, ia biasa dipanggil Nur atau Ningsih. Ketika orang-orang mulai gemar foto selfie, termasuk dirinya, teman-teman sekolahnya lantas memanggilnya Selfi. Selfi memiliki sahabat yang juga memiliki hobi senada. Namanya Bela. Rumah keduanya kebetulan masih berada di komplek perumahan yang sama.

Setiap hari, Selfi dan Bela selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Salah satu ritual yang tak pernah ditinggalkan saat berangkat sekolah adalah ber-selfie ria dengan smartphone masing-masing.

Cekrek! Cekrek!

Pagi itu, begitu turun dari angkot, Selfi langsung mengeluarkan smartphone-nya dan langsung foto selfie dua kali. Selfi tersenyum puas melihat hasil dua pose foto selfie-nya pagi itu. Kedua foto tersebut lantas ia unggah di akun Instagram-nya dengan caption; “Siap-siap masuk kelas, yuk?”

“Fi, buruan, ntar kita telat,” suara Bela mengaburkan konsentrasi Selfi yang tengah menunggu fotonya benar-benar sukses terunggah di Instagram-nya.

“Bentar Bela, sinyalnya agak lemot, nih!”

“Lanjutin ntar saja, hari ini ada ulangan matematika, lho.”

Selfi mengangkat wajahnya yang semula asyik dengan smartphone-nya. Menatap Bela dengan pandangan shock.

“Oh…, kenapa kamu baru ngingetin, Bel?”

Baca juga: Kisah Pilu tentang Seutas Tali – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Pikiran Rakyat, 10 Juni 2018)

Buru-buru Selfi memasukkan ponsel ke tas cangklongnya. Bersama Bela, ia tergesa menyeberang jalan. Menuju gedung sekolah yang tinggal 20-an langkah lagi.

***

“Bete banget kayaknya,” ujar Bela saat sedang bersama Selfi menikmati jus alpukat di kantin sekolah.

“Gimana nggak bete, dari 10 soal, aku cuma bisa menjawab empat, Bel,” terang Selfi.

“Semalam nggak belajar?” dahi Bela membentuk lipatan.

Selfi menggeleng polos, “Eng…gak, lupa ketiduran,”

“Huu, pantesan!” sahut Bela gemas.

Advertisements