Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 19 Agustus 2018)

Para Pahlawan Gaib ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Para Pahlawan Gaib ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

BEBERAPA tahun silam, tatkala Belinyu masih tampak samar-samar dalam foto satelit Google Earth, banyak orang di kota kecilku itu meyakini penyebabnya adalah jimat-jimat yang ditanam para dukun semasa Perang Dunia Kedua.

“Tak ada satu pun bom yang dijatuhkan Zero mengenai permukiman,” begitulah kesaksian pamanku, Fuad, yang pada saat kejadian berusia 14 tahun. Dia ikut menyambut bala tentara Dai Nippon dengan bendera Hinomaru ketika pasukan yang menurutnya memang berpostur pendek-pendek itu berbaris memasuki kota kecil kami, lalu dengan cepat menduduki tempat-tempat penting seperti PLTU Mantung, kantor wedana, dan kantor Banka Tin Winning [1].

Siang-malam, pesawat-pesawat Jepang tak henti-hentinya melintas lewat, terkadang terbang cukup rendah dengan suara dengung yang menyakitkan telinga. Itu kata ayahku. Dia tujuh tahun lebih muda dari Paman Fuad. Tetapi, bersama kawan-kawan sebayanya, dengan cukup jelas ia menyaksikan bagaimana bom-bom itu dijatuhkan oleh Zero. “Seperti kawanan angsa bertelur di udara,” ujarnya nyengir.

“Belanda dan orang-orang China panik luar biasa begitu mendengar Jepang bergerak cepat menuju Singapura. Meskipun mereka tak mengira Singapura akan jatuh dengan mudah. Listrik dipadamkan, seluruh kawasan pasar gelap gulita. Tapi, kita tenang-tenang saja nyalakan lampu minyak. Tak ada warga Melayu yang mau menuruti perintah agar tak nyalakan penerangan di malam hari,” lanjut Paman Fuad.

“Benar-benar tak ada bom mengenai rumah warga?” tanyaku takjub.

“Tidak ada. Satu pun tidak ada. Ruko-ruko orang China di sepanjang pasar juga tak ada yang terkena bom. Itu karena di sekeliling Belinyu telah ditanami jimat-jimat pelindung, mulai dari Mapur sampai ke Pejam. Dari udara, orang-orang Jepang itu tak bisa melihat ke bawah dengan jelas. Seluruh kawasan Belinyu seperti ditutupi oleh kabut tebal.”

Baca juga: Paman Bungsuku yang (Syahdan) Setengah Dewa – Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 10 Desember 2017) 

Ia berhenti sejenak untuk menyulut sebatang rokok kretek buat kesekian kalinya, mengisap rokok itu dengan gaya santai lalu meneguk kopi kental di cangkirnya yang tinggal setengah.

“Tapi, wilayah laut di sekitar perairan Bangka tidak terlindung dan menjadi sasaran empuk. Banyak kapal Belanda ditenggelamkan. Aku ingat ada satu kapal barang dari Tanjungpandan menuju Batavia diserang oleh pesawat Jepang di Selat Gaspar. Lebih dari 30 orang tewas, kebanyakan pegawai rumah sakit. Di antaranya kepala listrik Tanjungpandan yang dulu pernah bertugas di sini.”

***

Paman Fuad kemudian bergabung dengan Giyugun setelah Bangka diduduki Tentara ke-25 yang bertanggung jawab atas Sumatera dan Malaya. Entah sudah berapa puluh kali ia memamerkan dua lembar fotonya yang berseragam paramiliter Jepang itu kepadaku dengan bangga.

“Jepang itu sebenarnya tidak sejahat yang diceritakan. Cerita kekejaman Jepang itu banyak dilebih-lebihkan dan dibumbui oleh orang China yang memang benci sekali pada mereka lantaran dendam. Kalau bukan karena Jepang, kita ini entahlah sampai kapan dijajah oleh Belanda.”

Advertisements