Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 19 Agustus 2018)

Dongeng Tarka dan Sarka ilustrasi Polenk Rediasa - Kompas.jpg
Dongeng Tarka dan Sarka ilustrasi Polenk Rediasa/Kompas

Maka mereka pun hanya membuka telinga badaniah mereka, sebelum mampu membuka yang batin. Mereka Tarka dan Sarka mencoba membuka telinga dan menutup lisan.

“Lakukanlah pekerjaan kalian sebagaimana biasa, namun dengan satu pantangan: jangan berbicara sepatah kata pun tentang apapun,” begitu pesan ayah mereka, yang memang seorang pertapa.

Sarka, sang adik. yang bertubuh kurus dan selalu lapar itu mempertanyakan ‘pelajaran’ yang baru saja diterima dari ayahnya. Menurutnya, itu hal yang hampir mustahil bisa dilakukan di tengah kehidupan masyarakat negeri Hastina yang makmur ini.

“.. Kalian akan mendengar begitu banyak pengetahuan secara diam-diam. Dengan mendengar, berarti kalian bisa menyimak. Dengan membisu, lisan kalian akan terjaga dari pengucapan yang sia-sia.. Karena seringkali lidah kita mengeluarkan racun fitnah yang tak bisa kita duga…” begitu pesan sang ayah kepada kedua kakak-beradik Tarka-Sarka yang mengais rejeki dengan menjual jasa menyeberangkan orang-orang dari tepi utara ke tepi selatan sungai Liman Benawi.

“Nanti.. kalau ada yang mbayar kurang, bagaimana, ayah?” protes Sarka lagi. “Apa, kami tidak boleh omong?”

Pertapa tua itu tersenyum, kemudian menjawab dengan lembut, “Terimalah. Jangan bertanya atau mempertanyakan. Terimalah berapapun yang mereka berikan pada kalian. Mudah-mudahan Yang Maha Adil akan memberimu keadilan.”

Maka, sejak empat puluh hari lalu, kedua kakak beradik itu bekerja dalam kebisuan. Mereka hanya tersenyum atau mengangguk. Kadang menggeleng. Berapa besar pun kepeng uang yang diberikan para penumpang, mereka terima dengan dada lapang. Dan nyatanya, pendapatan mereka lebih besar daripada sebelumnya.

Baca juga: Salawat Dedaunan – Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 2 Oktober 2011)

Para penumpang, yang umumnya adalah istri-istri tentara Hastina—yang tentu saja memiliki uang lebih—dengan senang hati memberikan bayaran lebih, karena menganggap kedua juru getek itu sangat sopan dan tak banyak tanya.

***

Sore itu, ketika mereka menambatkan rakit bambu di tepi selatan, sambil menunggu penumpang, Tarka dan Sarka dikejutkan oleh suara mendesing dan ceburan kuat di permukaan sungai. Bola kulit. Mereka pun kemudian hanya diam, dan membiarkan bola itu dibawa hanyut ke muara.

Advertisements