Cerpen Tjak Parlan (Republika, 19 Agustus 2018)

Bulan Memancar ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpg
Bulan Memancar ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Di luar, bulan memancar. Namun di sudut beranda, remang saja. Jame dan Latifa selalu mematikan lampu ketika mereka duduk-duduk di sana. Kalau saja daun-daun pohon tanjung di sisi pagar halaman itu tidak terlalu lebat, mungkin cahaya bulan akan lebih mudah menggambarkan wajah mereka.

“Mungkin kita memang harus memelihara kucing,” ujar Jame.

“Mengapa tidak dari dulu, Jame? Kita bisa memilih jenis yang kita suka,” jawab Latifa.

Jame membenamkan puntung rokoknya ke dalam asbak. Setelahnya, setenggak kopi hangat mengaliri tenggorokannya.

“Aku khawatir dengan alergimu. Menurutmu, apa ada jenis kucing yang tidak mudah merontokkan bulu-bulunya?”

Latifa bergumam tidak jelas. Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya yang kurus dan panjang ke dahinya. “Aku tahu,” ujarnya kemudian. Namun suara Latifa tertahan oleh dering sebuah ponsel.

Jame mengangkat ponsel itu dan segera terlibat dalam pembicaraan dengan seseorang. Di ujung pembicaraan, Jame manggut-manggut seraya menoleh ke arah Latifa. “Ibu,” ujarnya lirih, seraya menjauhkan ponsel itu dari telinganya.

“Ada apa?” tanya Latifa selepas Jame menaruh ponselnya di atas meja.

“Kucing.”

Latifa menajamkan matanya ke arah Jame. Jame tampak sedih.

“Kucing kesayangan ibu hilang. Sudah berhari-hari. Ibu begitu sedih sepertinya.”

“Joan hilang?” tanya Latifa seolah tidak percaya.

Baca juga: Rumah Kecil dengan Pintu Pagar Terbuka – Cerpen Tjak S. Parlan (Padang Ekspres, 15 Juli 2018)

Jame hanya mengangguk. Dalam suatu kesempatan, Latifa pernah bertemu dengan Joan. Waktu itu liburan panjang, Jame mengajaknya pulang ke kampung halaman. Nyaris selama seminggu, Latifa lah yang paling rajin mengurusi kucing itu, meskipun sembari mencemaskan alerginya. Tapi seekor javanese berekor panjang ternyata memang tidak menyumbangkan banyak bulu rontoknya.

“Lima tahun belakangan, ibu mulai suka memelihara kucing. Bukan hanya Joan. Masih ada dua atau tiga yang lainnya, dan ibu selalu sedih jika terjadi sesuatu yang kurang baik pada kucing-kucing itu.”

Advertisements