Cerpen Haryo Pamungkas (Radar Banyuwangi, 19 Agustus 2018)

Azan untuk Bapak ilustrasi Radar Banyuwangi
Azan untuk Bapak ilustrasi Radar Banyuwangi 

Saya pulang saat rumah sedang berkabung. Bapak meninggal kemarin. Ibu terkulai lemas di dipan, sesenggukan menangis. Saudara-saudara dari jauh datang dengan pakaian serba hitam. Rumah yang biasanya sepi kini riuh oleh tangis. Sekitar tiga tahun saya tidak pulang, merantau di kota lain untuk bekerja. Pagi-pagi sekali saya mendapat telepon dari tetangga, mengabarkan Bapak meninggal setelah salat Subuh. Awalnya Ibu mengira Bapak hanya tidur, tapi sampai siang Bapak tak juga bangun-bangun. Dan akhirnya diketahuilah Bapak sudah tiada. Kata tetangga dekat yang menghubungi saya itu, Ibu langsung pingsan setelah kaget dan menangis tak henti-hentinya. Ia langsung menghubungi saya dan mengabarkan bahwa Bapak sudah tiada. Bapakmu sudah pulang. Saya langsung paham apa yang maksud pesan itu. Saya bergegas siap-siap dan tancap gas untuk pulang kampung.

Saya sampai ketika rumah sudah ramai. Pulang saya telat, ternyata Bapak sudah dikuburkan kemarin. Semua memandang saya aneh, seolah pandangnya mengatakan bahwa saya anak durhaka. Bagaimana mungkin Bapakmu meninggal dan bukan kamu yang mengazani? Ya itu lumrah jika semua berpikiran macam-macam. Tapi toh saya sudah berusaha sebisa saya, kota tempat saya bekerja sangat jauh. Butuh waktu sekitar 16 jam memakai mobil. Semua orang memandang saya dengan tatapan sinis, kecuali Ibu. Saya lihat Ibu masih juga menangis tak henti-henti. Saya dekati Ibu, bersimpuh di kakinya dan kemudian memeluknya. Ibu tetap menangis, ia memandang saya sekilas, lalu balas memeluk saya. Dan barulah saya dengar kata-kata dari Ibu.

“Bapak kangen kamu.” Patah-patah ibu berkata sambil terus sesenggukan menangis. Saya hanya diam tak membalas kata-kata Ibu. Saya paham perasaan Ibu dan kangen Bapak.

Baca juga: Laki-laki yang Kawin dengan Babi – Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 06 Mei 2018)

Samar-samar saya dengar para tetangga dan saudara-saudara jauh mulai mencibir saya.

“Ini dia si bajingan akhirnya pulang, kalau Bapaknya tak meninggal mungkin ia tak akan pulang.”

“Nah, anak macam apa dia?”

“Mentang-mentang sudah jadi kaya, jadi lupa asal-usulnya.”

Advertisements