Cerpen Eko Setyawan (Malang Post, 19 Agustus 2018)

Sum Merah dan Darah Anjing ilustrasi Solo Pos.jpg
Sum Merah dan Darah Anjing ilustrasi Malang Post

Di dekat tempat penyembelihan anjing itu, orang-orang sibuk menjajakan dagangannya dengan harga yang murah. Harga yang ditawarkan dengan serendah-rendahnya. Hal itu dilakukan untuk menarik pembeli. Dan alhasil, pembeli akan berjubel di sana. Di tempat itu, sesekali terdengar suara anjing yang sedang disembelih.

Suara kaingan anjing yang begitu keras dan jika didengar dengan seksama menunjukkan bahwa anjing-anjing itu sedang merintih dan merasakan rasa sakit yang amat luar biasa. Anjing-anjing yang disembelih dengan keji. Disembelih dengan kekejaman manusia. Disembelih dengan suara-suara ketakutan dari anjing-anjing yang hampir purna hidupnya.

Atau jika boleh kukatakan dengan sejujur-jujurnya, anjing-anjing itu bukan disembelih selayaknya hewan-hewan yang akan dimakan pada umumnya. Bukan disembelih dengan mata pisau yang terasah tajam. Bukan dengan menggorok leher lalu dengan cepat darah muncrat ke tanah. Tanpa didahului rapalan doa untuk memohon berkah dari Yang Mahakuasa. Tanpa pernah memiliki belas kasih sebagaimana hakikat manusia seharusnya.

Anjing-anjing itu disembelih. Bukan. Bukan disembelih. Tetapi dipukuli dengan batu. Dipukuli dengan kayu. Mula-mula, anjing itu dimasukkan ke karung. Lalu dieksekusi serupa penjahat yang kepergok massa. Ia dipukuli. Bedanya kali ini, ia tidak dipukuli beramai-ramai. Ia tidak di massa. Tetapi digebuk berkali-kali oleh sang juru pencabut nyawa.

Baca juga: Bulan Pemakan Ternak – Cerpen Eko Setyawan (Minggu Pagi, 16 Agustus 2018) 

Katanya, jika darah anjing tidak tumpah ketika dibunuh, rasanya akan nikmat. Lebih nikmat dari daging apapun. Jadi wajar saja jika anjing-anjing itu tidak disembelih, tetapi dipukuli agar tidak ada setetes darah pun keluar. Dan dengan ini, kurasa aku bahkan kau berhak menghakimi pembunuh anjing itu sebagai manusia paling kejam di dunia. Bahkan jika boleh kukatakan dengan sejujur-jujurnya, mereka bukan manusia. Karena mereka begitu kejam. Mengerikan.

Kau boleh membayangkan dirimu menjadi anjing-anjing itu. Merasakan rasa sakit yang dibuat oleh manusia. Jangan pernah membayangkan menjadi pembunuh. Itu adalah hal paling bodoh jika benar-benah kau lakukan. Kekejaman seringkali lebih membahagiakan dari pada rasa belas kasih.

***

Advertisements