Cerpen Raflis Chaniago (Haluan, 18-19 Agustus 2018)

Pelarian ilustrasi Istimewa.jpg
Pelarian ilustrasi Istimewa

Di mana kau Chao-Xing? Kurang ajar! Kaubilang tengah di dan akan menetap di P. Bangka. Kausuruh aku datang ke sini. Sudah berhari-hari aku di sini, tapi kau tak kutemukan. Aku di sini setelah membaca suratmu berkali-kali saat di penjara, yang susunan dan nadanya tak jauh berbeda dari surat-suratmu yang biasa.

Suratmu alangkah indahnya bak lagu, seperti ini;

Syair dan pantun tersusun indah sayang. Bagaikan fatwa sang pujangga

Tetapi Chao, suratmu yang terakhir bunyinya begini;

Menemui kekasihku, Uda Syafruddin di pila Asmara.

Uda, Kutulis surat ini buat Uda tatkala langit tak berbintang. Tatkala langit disungkup jubah hitam. Hitam bagai jubah pastor sedang khotbah. Betapa hancur hatiku menyaksikan Uda dalam penjara. Kini aku diasingkan papiku ke P. Bangka. Harus menetap di sana. Tak boleh pulang. Aku diwajibkan mengembangkan usahaku yang telah ditetapkan. Kelak kalau Uda sudah bebas, carilah aku ke pulau tempat aku diasingkan itu. Semoga kita bertemu di mahligai cinta. Wasalam, Kekasihmu Chao-Xing

“Chao! Chao! Di mana kau? Aku berteriak sekeras-kerasnya. Orang-orang di sekitarku terkaget-kaget. Mereka pasti mengira aku orang gila.

Dari Jambi aku datang kemari mencarimu. Berbagai sudut daerah kutelusuri, tetapi alamat yang kautulis di surat adalah alamat palsu. Di Mana kau sebenarnya? Ah, jangan-jangan ini hanyalah akal-akalan kau untuk menghindariku. Kaubilang ke sini, padahal kau ke daerah lain.”

Baca juga: Bagaimana Bandit Mulai Mencintai Lemari Pakaian Itu dan Kisah-Kisah Cinta Mengerikan Lainnya – Cerpen Ajeng Maharani (Haluan, 22 Juli 2018)

Ah, sialan! Celaka tigabelas! Kalaulah papimu tidak meminta polisi menciduk kita di Halim saat itu, pasti kita sudah jadi suami istri. Ketika itu, kau mengajak kawin lari ke Bandung karena takut lamaranku ditolak papimu. Maklum, aku Islam sedangkan kau Kong Hucu. Begitu kita turun di Halim, aku langsung diborgol polisi dengan tuduhan melakukan penculikan, sedangkan kau langsung dibawa pulang ke rumah.” Rutuk Syafruddin seorang diri. Seperti gila.

Pikiran Syafruddin kacau bagai hutan belantara diporakporanda badai topan. Pohon-pohon cinta bertumbangan. Gelap hampir terjerembab di atas langit kepalanya. Untung dia cepat menguasai dirinya dan kembali ke Jambi.

Advertisements